"Kita tidak membutuhkan penjejalan, tapi kita membutuhkan pengembangan dan penyempurnaan pikiran dari setiap siswa dengan pengetahuan yang berasal dari fakta-fakta yang mendasar".
Di dalam membicarakan metode pendidikan sitem among atau dengan singkat di sebut metode among, akan saya kemukakan beberapa plobema, yakni:
1. Apakah pengertian metode among?
2. Apakah prinsip-prinsip metode among
Dari problema ini kita mencoba untuk memberi wawasan pemecahan masalahnya.
Pengertian metode among:
Metode among (dalam arti di latih dan metode mengajar) adah suatu metode pengajaran dan pendidikan, di mana pamong sebagai pendorong dari belakang terhadap para siswa supaya para siswa tadi mempunyai keaktifkan yang terarah untuk belajar sendiri dengan merdeka sehingga semua potensinya dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan pendidikan. Wujudnya metode among dalam tindakan adalah:
1. Mengamat-amati siswa tetapi bukan mecurigainya.
2. Memelihara dan menuntun siswa bila di perlukan saja.
3. Memberikan kemerdekaan untuk bertindak ke pada siswa.
4. Memelihara situasi yang menyenangkan.
5. Menyingkirkan kesukaran dan atau bahaya yang tidak dapat di atasi oleh siswa itu sendiri.
6. Tut wuri handayani, mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh sevara aktif dan efektif, bisa di perlukan.
A. Prinsip-Prinsip Metode Among
Sebagai prinsip-prinsip metode among antara lain ialah:
1. Menciptakan dan memelihara situasi yang menggembirakan bagi sang anak (siswa) baik dalam situasi pergaulan antara pamomg dan siswa maupun siswa dengan siswa dan pamong dengan pamong dan dala, situasi pergaualan lainya. Pamong – pamong yang tidak dapat menggembirakan yang di emong, bukan pamong yang sejati.
2. Memberi kemerdekaan siswa untuk belajar dan berbuat sendiri, jadi memakai prinsipkegiatan sendiri baik individual maupun kelompok
3. Dorongan – dorongan (motivasi) dari pamong harus sesuai dengan tingkatan – tingkatan pertumbuan dan perkembangan anak yakni berdaarkan prinsip perkembangan jiwa anak (siswa).
4. Mengembangkan kodrat (pembawaan) anak, terutama pembawaan yang baik – baik.
5. Membendung dan menghilangkan potensi – potensi yang tidak baik supaya tidak berkembang atau biar menjadi tipis.
B. Prosedur Pelaksanaan Metode Among
Di dalam melaksanakan metode among maka dapat di tempuh langkah langkah sebagai berikut:
1. Menciptakan situsi yang menggembirakan dalam keluarga perguruan maupun di dalam masyarakat. Hal ini penting, sebab situasi jiwa yang gembira akan dapat melancarkan tugas – tugas pekerjaan. Pada tugas mencipatakan situasi genbira ini dan untuk memeliharanya baik psychis maupun jasmaniah dapat menggunakan cara tersebut:
a. menghilangkan dan mencegah timbulnya tenaga batin pada para siswa, pamong perseorangan dan dalam bentuk hubungan pergaulan.
b. Jangan ada unsur – unsur memerintah dan memaksa antara pamong dan siswa, pamong dan pemimpin, pamong dan oamong maupun antara siswa. Tanamkan kesadaran akan kewajiban untuk menjalankan tugas tanpa perintah dan paksaan. Biasakanlah kepada hal – hal yang baik.
c. Situasi sekitar harus teratur, bersih dan jika dapat yang artistic ruangan kelas yang teratur.
d. Jangan menunda tugas dan kebutuhan – kebutuhan yang segera dapat dilaksanakan, sebab penundaan selalu akan menimbulkan kekecewaan, dan bahkan dapat menimbulkan hasil dan irama mengajar jangan terlalu melelahkan, buatlah yang lincah, cekatan, tidak monoton.
e. Pamong sedapat mungkin, menciptakan situasi pendidikan seperti dalam keluarga, artinya pamong dapat memperlakukan para siswa seperti memperlakukan anak –anaknya sendiri, jadi dengan dasr cinta kasih yang pedagogis.
2. Mengamati keadaan siswa secara teliti dengan menyelengarakan beberapa catatan, antara lain adalah :
a. kartu pribadi : untuk mencatat data mengenai data siswa satu persatu. Hal – hal yang perlu diteliti ialah :
1) Identitas siswa : nama, umur, jenis, sex, agama, kelas dan alamat.
2) Data orang tua : umur, agama, pendidikan dan pekerjaan, penghasilan, nama – nama saudara dan pekerjaan, penghasilan, nama –nama, saudara siswa dengan pendidikan dan atau pekerjaannya, alamat rumah, dsb.
3) Riwayat kesehatan siswa : cacat – cacat, apa yang dibei ta, penyakit apa yang sering dialami, penyakit turunan apa yang ada dll.
4) Riwayat pendidikan siswa : kapan masuk sekolah apakah pernah tidak naik kelas berapa, mata pelajaran apa yang paling disenangi, dan mata pelajaran yang tidak disenangi, mana yang mudah dan mana yang sukar, hobinya apa, dsb.
5) Sifat –sifat pribadi siswa : sifat – sifat baiknya dan juga kekurangan – kekurangan bakat apa.
6) Data latar belakang asal siswa : dari kota, desa, daerah lain, tradisinya, keadaan sekarang dsb.
Pendekatan kartu pribadi tadi hendaknya dibuat secara lengkap dan kontinyu supaya dapat diketahui pertumbuhan dan perkembangan siswa. Penyelenggaraan kartu pribadi baiklah dibedakan kepada pembimbing atau yang lain dan dibantu pamong.
b. Pembuatan priofil pribadi : ialah suatu gambaran atau grafik dinamika prestasi belajar para siswa satu persatu dan secara keseluruha. Hal ini penting untuk mengetahui keharmonisan hasil pendidikan. Profil pribadi ini dibuat dengan sitem kartu juga, sehingga dapat diebut kartu profil pribadi,.
Dengan melihat grafika (gambar profil pribadi ) seseorang siswa, maka dapat di periksa antara lain:
1) Mata – mata pelajaran apa yang maju dan baik nilainya.
2) Nilai – nilai mana yang kurang.
3) Nilai – nilai mana yang sama.
Karena pendidikan sitem among menganut cita- cita pembentukan pribadi intergral, maka gambaran propel pribadi harus seimbang, artinya beda antara prestasi yang tinggi dan yang rendah tidak terlalu menyolok. Secara ideal, prestasi – prestasi belajar pada tiap – tiap mata pelajaran hendaklah sama.
c. Sudi kasus ialah menyelidiki siswa perseorangan secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu tahun. Hasilnya di catat dan di analisa serta study juga dapat di terangkan untuk kelompok siswa.
3. Didaktik dan Metodik dengan asas perkembangan anak, harus melaksanakan prinsip dan prosedur sebagai berikut:
a. Prinsip aktivitas siswa (aktivitas sendiri).
1) Dasar psykologisnya: pengajaran (belajar) datang dari response anak sendiri kepada stimulasi. Jangan memerintah atau memaksa anak untuk belajar, tetapi rangsanglah dengan memberi tuntunan sedikit mungkin untuk belajar sendiri, timbulnya ke butuhan untuk belajar.
2) Aturan prosedurnya untuk pamong: mengontrol atau nengawasi para siswa pada arah yang semestinyabenar, di samping itu mencegah kegiatan – kegiatan yang salah.
b. Prinsip Motivasi atau menuntun interest: untk memberi dorongan, inilah prinsip tut wurinya.
1) Dasar psycologisnya: atensitas respon belajar tergantung pada interest, tergantung kepada kuat lemahnya motif belajar yang ada pada sisw.
2) Aturan prosedurnya untuk pamong: Timbulnya interes pada waktu memberi stimulasi belajar. Misalnya dengan memberi alat – alat peraga yang menarik perhatian, bahan yang di pelajari memang penting untuk hidup, dan sebainya lagi.
c. Prinsip Appersepsi ialah persiapan untuk kesediaan nental atau kemauan jiwa siswa.
1) Dasar psychologisnya: essensi respone belajar tergantung ke pada pengalaman yang lampau dan rangka pikiran pada saat ini. Artinya pengajaran harus bertitik tolak ke pada pengetahuan – pengetahuan yang telah di miliki oleh anak sebagai bekal untuk menagkap pelajaran yang baru.
2) Aturan prosedurnya untuk pamong: penyajian bahan – bahan atas stimuli hendaklak di selaraskan dengan pengalaman dan kesiapan mental para siswa.
d. Prinsip individualisasinya: Yakni mengindahkan prbedaan – perbedaan individual (individual differences), artinya mengikat atau di sesuaikan dengan pembawaa siswa masing masing.
1) Dasar psychologisnya: Response belajar di temukan dan di batasi oleh kemampuan individu-individu perseoragan yang sayu sama lain berbeda beda . Misalnya siswa yang berbakat ilmu pasti akan lebih cepat dapat memahami pelajaran aljabar di bandingkan dengan yang tidak brbakat ilnu pasti.
2) Aturan prosedur utntu pamong: sesuaikanlah pengajaran dengan individual differences tadi. Data individual mengenai pembawaan para siswa dapat di cari dalam kartu pri badi pada bagian bimbingan dan penyuluhan
e. Prinsip sosialisasinya: Artinya menuntun perkembangan anak kepada pemamfaatan bersama, untu masyarakat inilah pendidikan social skill (kecakapan social).
1) Dasar Psychologisnya: Tiap yip response tentulah mempunyai implikasi-implikasi socialnya tidak ada orang hidup soliter, tetapi mesti masyarakat.
2) Aturan prosedurnya untuk pamong: semua response belajar harus di kembangkan didalam si tuasi sosial yang wajar. Misalnya para siswa hendaklah selalu di latih dalam kerja sama, berkomunikasi satu sama lain, berkonikasi satu sama lain, saling Bantu membantu saling mempercayai, saling menghormati.
f. Prinsip efesinsi Aktifitas kerja: Artinya kerja: Artinya dengan sedikit usaha dapatlah memperoleh hasil yang banyak dengan memuaskan hati.
1) Dasar psychologisnya: setiap usaha mesti menghendaki yang cepat, memuaska dan berguna.
2) Aturan prosedurnya: Setiap usaha dan kegiatan belajar hendaklah dilaksanakan dengan cepat, hemat, teliti, dan bertindak (bekerja) dengan kecekatan, lincah dan rapuh.
Demikian senam prinsip dan prosedur didaktik metodik modern yang berdasarkan pada perkembangan jiwa anak-dasar psycchollogis. Yang ada pokonya mengajar dan belajar harus di sesuaikan dengan tahap- tahap pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak- anak serta di sesuaian lagi engan bakat-bakat perseorangan-dasar individual.
Latar Belakang Sistem Among
Kata Among untuk menunjuk arti pendidikan, Ki hajar Dewantara memakai dalam karangan beliau yang berjudul pengajaran nasional, sebuah pidato pada rapat umum Tamansiswa di malang tanggal 2 pebruari 1930, antara lain beliau berkata:
”Pendidikan Tamansiswa tidak memakai syarat paksaan. Lebih tegas lagi apabila kita mengetahui, bahwa sesungguhnya perkataan opvoeding, panggulawen itu perkataan kita: Momong, Amonng dan Ngemong”.
Pembaca perlu mengetahui, bahwa ketiga istilah tersebut di atas memang among ngemong dari bahasa jawa. Ketiganya berarti memelihara anak selalu senang hatinya dan aman (selamat), terhindar dari semua bahaya. Selain momong berarti membantu, memelihara anaknya. Inilah tugas momong yang sebenarnya, orang yang di serahi tugas momong di sebut pamong, artinya tukang momong. Anak yang di emong disebut mongan. Dahulu ketika masih jaman kerajaan, ada pamong dalam istana, yakni momong putra dan putrid raja. Pamong putri dalam istana di sebut emban. Emban yang khusus menyusui putra raja di sebut inya sedangkan pamong putra di sebut punakawan panakawan, dan tugasnya momong putra laki – laki raja, bahkan sampai dewasa.
Yang telah dewasa tetap emban. Orang biasa juga mempunyai pamong, yang bertugas momong anak – anak, supaya ibu dan ayah dapat bekerja biasa.
Ada lagi pemakaian kata momong yang berarti istimewa. Misalnya, seorang jejaka minta ke pada orang tua putri remaja, bahkan ia akan momong putra putrinya. Hal ini bearti melamar, jadi putrinya momonganya akan di jadikan istrinya. Contoh, arti esensi dari kata momng masih tetap juga, yakni suami berusaha untuk mengembirakan memelihara supaya sang istri merasa senang, aman dan bahagia. Dan sebaliknya sang istri juga momong istrinya, artinya membantu semua hal yang dibutuhkan suami. Maka suami dan istri terjadi emong – ingemong, saling momong satu sama lainnya.
Mengapa Ki Hajar Dewantara mengunakan istilah among dengan maksud menunjukan adanya perasaan dengan ovpvoeding, sebab beliau ingin menunjukan juga, bahwa mendidik anak itu harus dengan darah kemerdekaan, mengingat bahwa anak itu mempunyai pembawaan kodrati yang memerlukan pertumbuhan dan perkembangan secara leluasa, secara merdeka. Pendekatan Ki Hajar Dewantara, untuk mendidik jiwa merdeka pada anak –anak Indonesia. Lebih kentara lagi latar belakang timbulnya cita – cita dan pelaksanaan pendidikan merdeka atau pendidikan system among adalah :
1. Nasib bangsa Indonesia yang terjadi dalam segala hal oleh pemerintah colonial belanda.
2. System pendidikan kolonial tidak memenuhi keburuhan rakyat Indonesia, jumlahnya amat sedikit.
3. Yang dapat masuk sekolah hanya anak –anak pegawai dan golongan ningrat.
4. System pendidikan colonial tidak cocok dengan kodrat dan kebutuhan anak Indonesia. Yaitu :
a. Dasarnya perintah, hukuman dan ketertiban, hal ini dianggap oleh Ki Hajar Dewantara, sebab memperkosa kodrat anak.
b. Isi pendidikanya mengabdi kepentingan colonial belanda.
c. Merusak kepribadian anak, misalnya menimbulkan akses intelektualisme, individualisme, egoisme, materialisme, dsb.
d. Kurang atua tidak mementingkan pendidikan watak yang baik dan keluhuran rasa dan budi, sehingga tidak dapat mencapaipribadi yang harmonis.
e. Kegagalan – kegagalan dibidang politik memberi inspirasi jalan keluarnya ialah menanamkan jiwa merdeka melalui pendidikan yang merdeka dengan dasar tertib dan damai, tata dan tentram, larasan dan wirama, merdeka berdiri sendiri, mandiri dan pribadi.
f. Sebagai protes secara positif dari Ki Hajar Dewantara untuk mengimbangi system pendidikan colonial dengan mendirikan perguruan nasional.
g. Pengaruh ide – ide dari tokoh – tokoh pendidikan.
Di dalam peraturan dasar persatuan Tamansiswa juga ada perumusan mengenai system yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan dua dasa.
a. kodrat alam sebagai sarat untuk mencapai kemajuan dengan secepat – cepatnya dan sebaik – baiknya.
b. Kemerdekaan sebagai sarat untuk meenghidupkan dan memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka.
Mengenai cara melaksanakan system among tadi disebut juga system “ tut wuri handayani” ( mengikuti mendayai) dalam system tersebut maka setiap pamong sebagai pemimpin dalam proses pendidikan itu melaksanakan.
a. Tut wuri handayani
b. Ing madya mangun karsa
c. Ing ngarso sung tulodo
Ki Hajar Dewantara sendiri memberikan penjelasan mengenai pendidikan system among mewajibkan pamong untuk selalu mengingati dan menentukan dan mementingkan kodrat iradatnya anak – anak dengan memperhatikan juga keadaan sekelilingnya.
Sekarang sampailah saya pada untuk memberikan wawasan mengenai metode among dalam pelaksanaan kongkritnya, dalam arti metode pengajaran pada mata – mata pelajaran pada perguruan tamansiswa dan peminat – peminat lainya. Titik tolak tetap pada definisi penddidikan system among tersebut di muka, yang secara implisit menentuka kepada anak sebagai obyek dan subyek pendidikan. Oleh karena anak sebagai masalah sentralnya, maka perlu ditinjau lebih dahulu aspek-aspek pendidikan mana yang harus dituntun pertumbuhan dan perkembangan secara kodrati dan merdeka supaya anak dapat mencapai kedewasaan pribadi yang integral, harmoni yang dapat hidup bahagia di dalam masyarakat.
1. ASAS PERTAMA :
Setiap orang berhak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertib persatuan dalam kehidupan umum.
Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri dengan mengingati tertibnya persatuan dalam prikehidupan umum itulah asas kita yang pertama.1 Tertib dan damai itulah tujuan kita yang setinggi – tingginya.2 Tidak adalah ketertiban terdapat, kalau tidak bersandar kepada perdamaian. Sebaliknya tidak akan ada orang hidup damai, jika ia dirintangai dalam segala sarat kehidupanya.3 Bertumbuh menurut kodrat itulah perlu sekali untuk segala kemajuan dan harus dimerdekakan seluas – luasya.4 Maka dari itu pendidikan yang bersaratkan “ paksaan hokum ketertiban”, inilah perkataan itulah kita anggap memperkosa hidup kebatinan anak.5 Yang kita pakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri.6 Inilah yang kita namakan “ Among – Metode “.7
URAIAN
1. kalimat ini menentukan kedudukan manusia sebagai pribadi ( individu ) dan sekaligus makhluk sosial. Sebagai individu manusia memiliki hak asasi Kemanusian, sedang sebagai makhluk sosial manusia memiliki pula kewajiban hak asasi Kemanusiaan. Mewujudkan hak kemerdekaan selalu memperhatikan tertib – damainya kehidupan bersama atau masyarakat. Oleh karenanya kepentigan hidup bersama harus merupakan batas dari perwujudan kepentingan individu.
Di sini juga tercermin asas demokrasi kekeluargaan, karena demokrasi tidak boleh bersembunyi pada hak asasi, melainkan juga harus tunduk kepada kepentingan sosial. Antara hak asasi dan kewajiban sosial harus terdapat keseimbangan.
Jiwa merdeka pendukung nilai – nilai yang di junjung tinggi oleh Tamansiswa.
Secara kodrati manusia sebagai makhluk Tuhan YME, olehnya dikaruniai dua sifat yang nampaknya kontraversial, ialah kemerdekaan dan ketergantungan. Dengan sifat kemerdekaan itulah, maka manusia sebagai individu memiliki hak mengatur dirinya sendiri, yang pada umumnya kita kenal sebagai hak asasi manusian. Tuntunan akan terwujudnya hak tersebut secara mutlak akan melahirkan faham liberalisme.
Mengenai ketergantungan sedikitnya kita kenal dua macam :
a. ketergantungan kepada sang pencipta.
b. ketergantungan kepada sesama manusia.
Ketergantungan manusia kepada pencipta menimbulkan sikap dan perilaku menyembah. Manusia berusaha untuk mengabdikan diri kepadanya dengan mematuhi segala perintah dan menjauhi larangannya.
Ketergantungan manusia kepada sesama menimbulkan sikap dan prilaku menjunjung tinggi kepentingan bersama, yang selanjutnya melahirkan juga kewajiban asasi kemanusiaan. Masyarakat yang mengutamakan terwujudnya kewajiban tanpa memberikan hak kepada segenap warganya, mengarah ke bentuk masyarakat yang totaliter.
Sifat ketergantungan kepada sesama, menuntut terwujudnya tertib damai hidup bersama, yang selanjutnya merupakan batas atas perwujudan kemerdekaan individu. Ki Hadjar Dewantara selalu menegaskan, bahwa masyarakat yang pelaksanaanya kemerdekaan individu selalu dibatasi oleh tertib damai kehidupan bersama.
Berdasarkan kesemuanya itu, maka salah satu tujuan pendidikan Tamansiswa adalah menjadikan anak didik manusia yang berjiwa merdeka lahir bathin, manusia yang merdeka cipta, rasa dan karsanya, agar mampu berkarya merdeka dan berkesanggupan untuk membudayakan dan membangun diri serta masyarakatnya. Jika pada jaman perjuangan kemerdekaan jiwa merdeka merupakan syarat utama bagi usaha memerdekakan nusa dan bangsa, maka sebagai pendukung nilai-nilai sosial budaya yang sesuai dengan jiwa Pancasila, seperti diuraikan dimuka, maka jiwa merdeka ternyata cukup penting sebagai modal pokok dalam pembangunan.
2. Tujuan organisasi Tamansiswa adalah terwujudya masyarakat tertib - damai, suatu masyarakat salam dan bahagia serta adil dan makmur. ini berarti bahwa masyarakat yang dicita – citakan adalah masyarakat yang mampu memberikan kehidupan yang tenang dan tentram kepada setiap warga, terpenuhi segala kebutuhan hidup lahir - batin, serta terwujudnya segala hak dan kewajiban secara seimbang dan selaras.
3. Disini di jelaskan persyaratan untuk mencapai ketertiban dan kedamaian itu. Tidak dapat di wujudkan ketertiban, keteraturan, keselarasan, jika tidak ada damai, ketenangan bathin dan ketentraman jiwa. Tetapi juga tidak mungkin ada kedamaian, jika manusia selalu dirintangi dalam hidupnya. Artinya jika manusia tidak berkesempatan mewujudkan hak kemerdekaannya selaras dengan kewajiban sosialnya. Perwujudan hak asasi kemanusiaan dan kewajiba asasi kemanusiaan.
Kesadaran akan perwujudan kepentingan individu dan kepentingan hidup bersama secara selaras, seimbang dan serasi, inilah faham kemerdekaan menurut asas Tamansiswa dan inilah yang melandasi jiwa merdeka sebagai pendukung nilai – nilai sosial budaya yang dijunjung tinggi Tamansiswa. Kemerdekaan individu yang dibatasi oleh tertib - damainya kehidupan bersama mendukung :
a. Keselarasan merupakan serba keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat: keseimbangan antara hidup dunia, antara jasmani dan rohani dan sebagainya.
b. Keluarga adalah sendi hidup yang berlandasan pada manunggalnya rasa aku dan kita, yang mengutamakan pengabdian kepada keselamatan dan kebahagiaan hidup bersama.
c. Musyawarah adalah upaya bersama untuk mencari penyelesaian dan pemecahan masalah yang menjadi kepentingan bersama hak dan kewajiban.
d. Toleransi yang dimaksud adalah tenggang rasa, sikap saling menghormati pendapat dan saling menghargai pendirian masing – masing dalam usaha mencapai cita – cita bersama.
e. Kebersamaan adalah perasaan sama harga, sama nilai, sama hak dan kewajiban bagi sesamanya, non diskriminatif.
f. Demokrasi yang jiwanya kekeluargaan mengandung arti keseimbangan dalam mewujudkan hak asasi kemanusiaan dan kewajiban asasi manusia.
g. Tanggung jawab adalah kesanggupan untuk menaggung segala sesuatu sebagai pancaran kesadaran sosial seseorang.
h. Disiplin merupakan ketaatan dengan penuh kesadaran terhadap segala ketentuan yang telah disepakati bersama yang bertujuan untuk mengatur tertib damai hidup bersama.
4. Pertumbuhan kodrati adalah pertumbuhan yang tunduk pada hukum alam yang sudah mengaturnya secara rapih. Anak didik memiliki sifat-sifat kodrati sebagai anugerah Tuhan YME. Setiap anak didik memiliki kemampuan untuk tumbuh, mempunyai sifat-sifat kodrati yang dapat dikembangkan.
5. Uraian ini merupakan kritik terhadap terhadap sistem pendidikan kolonial, yang dasarnya adalah kultur asing, dan upaya mencapai ketertiban digunakan kekerasan, ialah dengan paksaan ancaman hukuman. Cara-cara demikian dipandang sebagai memperkosa kehidupan anak, dan sangat bertentangan dengan gagasan pendidikan merdeka yang telah diuraikan dimuka. Tamannsiswa menolak sistem yang demikian itu.
6. Jika kita menolak suatu sistem, sudah tentu kita harus sanggup memberikan gantinya. Sebagai alternatif lain daripada yang menggunakan paksaan, sudah tentu kita gunakan anti-podenya, ialah dengan memberikan kemerdekaan yang seluas-luasnya, namun harus dapat mencapai ketertiban pula. Oleh karena itu dalam mengikuti perkembangan kodrati dalam pertumbuhan jiwa raga anak didik itu, hendaknya kita lakukan dengan penuh perhatian dan tanggung jawab berlandaskan cinta kasih. Cara demikian itulah yang bermaksud dengan Metode Among, yang menurut pelaksanaannya juga disebuts sebagai sistem Tutwuri Handayani.
7. Kata Among berasal dari kata Jawa ”Mong” – ”Ngemong” yang arti harfiahnya adalah melakukan tugas mengasuh anak. Inang – pengasuh tugasnya mengemong anak dalam pertumbuhan, memenuhi segala hal yang dibutuhkanya dalam perkembangan itu. Pada fase kanak-kanak tentu diutamakan untuk kepentingan pertumbuhan ragawinya. Selanjutnya juga diberikannya tuntutan kepada perkembaangan jiwanya.
Untuk menggambarkan sistem pendidikan seperti yang dicita-citakan Tamansiswa itu, yang gagasan aslinya merupakan cetusan Ki Hadjar Dewantara, maka sistem itu lebih tepat dilambangkan dengan Among. Para petugas pelaksana pendidikan Among itu disebut pamong.
2. ASAS KEDUA
Pendidikan yang diberikan hendaknya dapat menjadikan manusia yang merdeka.
Dalam sistem ini, maka pelajaran berarti mendidik anak akan menjadi manusia yang merdeka batinya, merdeka fikiranya dan merdeka tenaganya.1
Guru hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, akan tetapi harus juga mendidik si murid mencari sendiri pengetahuan itu dan memaksimalkan guna amal keperluan umum.2
Pengetahuan yang baik dan perlu yaitu yang bermanfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama.3
URAIAN :
1. Kalimat ini menegaskan tentang tujuan pendidikan Tamansiswa, ialah untuk mendidik agar anak didik menjadi manusia merdeka, manusia berjiwa merdeka. Maksudnya ialah agar supaya ciptanya merdeka (fikiran), rasanya merdeka (batin) dan kaesanya merdeka (karsa mendorong pernuatan tenaga). Manusia merdeka ini merupakan tujuan pendidika Tamansiswa, dan sekaligus menjadi salah satu ciri pendidikan Tamansiswa, ialah “pendidikan merdeka”.
2. kalimat ini menegaskan fungsi pamong dan asas oto-aktivitas anak didik. Pamong bukan sekadar menyajikan ilmu dan pengetahuan sebagaimana dipedomani oleh kurikulum saja. Hal ini memang cukup penting, namun bukan hanya itu saja. Dengan asas kemerdekaan itu ditimbulkan dan dikembangkan oto-aktivitas anak didik, agar berkembang kreativitasnya, dan dengan cara kreatif anak didik mampu mencari sendiri pengetahuan yang mereka perlukan.
Sesudah jenis ilmu atau pengetahuan tertentu benar-benar dikuasai oleh anak didik, hendaknya dapat dimanfaatkan bagi kepentingan hidup bersama. Artinya dengan ilmu dan pengetahuan yag dimiliki, anak didik itu dapat hidup, dan kehidupannya bermanfaat bagi masyarakat.
3. kalimat ini menegaskan tentang kriteria mengenai pengetahuan yang baik. Kriteria yang dipakai dikaitkan dengan masalah kegunaan dari pengetahuan itu. Suatu pengetahuan dinilai baik dan perlu jika memenuhi persyaratan kegunaannya bagi kehidupan manusia dalam rangka hidup bersamanya (kemasyarakatan), meliputi kebutuhan hidup lahiriyan dan batiniyah.
3. ASAS KETIGA : Pendidikan hendaknya didasarkan atas keadaan dan budaya Indonesia
Tentang jaman yang akan datang, maka rakyat kita ada didalam kebingungan.1
Sering kali kita tertipu oleh keadaan yang kita ada pandang perlu ada laras untuk hidup kita, Padahal itu adalah keperluan bangsa asing, Yang sukar didapatkan dengan alat penghidupan kita sendiri.2 Demikian kita acap kali merusak kedamaian hidup kita.3 Lagi pula sering juga mementingkan pengajaran yang hanya menuju terlapasnya fikiran pada hal pengajaran itu membawa kita kepada gelombang penghidupan yang tidak merdekadan memisahkan orang – orang yang terpelajar denagn rakyatnya.4
Didalam jaman kehidupan ini seharusnyalah keadaan kita sendiri kiata pakai sebagai petunjuk jalan, untuk mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat kita dan akan memberikan kedamaian dalam hidup kita, dengan keadaan bangsa asing.5
URAIAN
1. Kalimat ini bukan meramalkan segala jaman yang bakal datang, melaikan menunjukan bahwa pada setiap saat, setiap waktu kapan saja, manusia akan selalu diharapkan pada pilihan – pilihan tertentu. Juga bangsa kita akan selalu di hadapkan kepada berbagai alternative yang harus dipilih. Hendaknya berhati – hati dan telitilah dalam memilih.
2. Jika kita kurang teliti dan kurang waspada namun uraian ini menunjukan bahwa kita akan bisa terkecoh. Kita menganggap bahwa sesuatu itu sangat perlu dan penting kehidupan kita, tetapi ternyata hal itu bahkan menjebak kita menjadi fihak yang kehidupanya kita tergantung kepada fihak asing. Ini merupakan peringatan bagi bangsa kita agar jangan mudah meniru – niru pola kehidupan asing, meskipun diselubungi oleh istilah “ hidup modern “, jika hal ini berada di luar jangkauan hidup kita dan juga tidak selaras dengan budaya hidup kita sendiri.
3. Sebagai akibatnya ialah bahwa kedamaian hidup kita yang dilandasi oleh keselarasan, keseimbangan hidup lahir batin dan keserasian dengan nilai –nilai budaya yang kita junjung tinggi dan dapat merusak karenanya.
4. Kalimat ini memberikan peringatan kepada kita, jangan kita hanya mengutamakan berkembangnya kecerdasan saja, yang mengarah kependewaan akal. Dari aspek kejiwaan anak didik maka yang harus kita kembangkan adalah seluruh jiwa secara utuh, ialah : cipta, rasa, dan karsa. Jadi tidak boleh hanya sefihak saja.
5. Dengan tetap berpegang kepada kepribadian bangsa sendiri, kita mencari pola – pola kehidupan baru yang sesuai dengan perkembangan alam dan jaman tetapi tetap memiliki pegangan yang kuat, ialah kebudayaan bangsa. Dengan demikian maka pola kehidupan yang baru itu akan tetap selaras dengan kepribadian kita, yang memberikan hidup damai bagi seluruh bangsa namun juga menemukan keselarasan dengan nilai budaya asing yang dianut oleh bangsa – bangsa lain.
4. ASAS KEEMPAT :
Pendidikan diberika kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Oleh karena pengajaran yang hanya terdapat sebagian kecil dari rakyat kita itu tidak berfaedah untuk bangsa maka haruslah golongan rakyat yang tersebar dapat pengajaran secukupnya.
Kekuatan bangsa dan Negara itu jumlahnya kekuatan orang – orang.
Maka dari itu lebih baik memajukan pengajaran untuk rakyat umum dari pada meninggikan ini seolah – olah mengurangi tersebarnya pengajaran.
URAIAN:
1. Kalimat ini meunjukkan asas demokrasu atau asas kerakyatan yang di anut oleh Tamansiswa. Berbicara tentang pendidikan, maka yang lebih di utamakan adalah bagaimana memberikan pendidikan ke pada rakyat yang terbesar. Jika hanya ada sebagian rakyat kecil saja yang terdidik, maka kaum terpelajar yang sangat terbatas itu kurang faedahnya bagi pembinaan bangsa (nation-building).
2. Bagi suatu bangsa maka letak kekuatannya adalah pada seluruh rakyatnya. Hal ini tidak saja dalam arti kuntitip saja, melainkan juga dalamarti kualitatif. Lebih banyak rakyat terdidik, atau secra kualitatif mempunyaikemampuan untuk menyadari dan melaksanakan tugas nasionalnya untuk mencapai cita-cita nasional bangsanya, maka bangsa itu akan tetap lestaridan mampu mencapai tujuan bangsanya.
3. Kalau di muka di kemukakan tentang asas demokrasi dalam pendidikan, maka di sini adalah penerapan dari asas pemeratan. Lebih baik memperluas kesempatan menerima pendidikan bagi massa rakyat yang banyak (horigontalisasi pendidikan) dari pada meninggikan secara kualitatif untuk bagian kecil rakyat, kalau usaha terakhir ini (vertikalisasi pendidikan) akan menghambat atau merintangi perluasan pendidikan. Maka di sini adalah penetapan dari akses pemerataan. Lebih baik memperluas kesempatan menerima pendidikan bagi masyarakat yang banyak dari pada meninggikan secara kualitatif untuk bagian kecil rakyat, kalau usaha terakhir ini akan menghambat atau merintangi perluasan pendidikan. Membeikan pendidikan dasar kepada seluruh rakyat harus lebih di utamakan dari pada pembentuakan dan pengembangan pendidikan tinggi.
5. ASAS KELIMA :
Untuk mencapai azas kemerdekaan maka kita harus bekerja sesuai kemampuan diri sendiri.
Untuk dapat berusaha menurut asas yang merdeka dan leluasa, maka kita harus bekerja menurut kekuatan sendiri. Walaupun kita tidak menolak bantuan dari orang lain akan tetapi kalau bantuan itu akan mengurangi kemerdekaan kita lahir dan batin haruslah ditolak.
Inilah jalanya orang yang tidak mau terikat / terperintah pada kekuasaan, karena berkehendak mengusahakan kekuatan diri sendiri.
URAIAN :
a. Kalimat ini menunjukan konsekuensi dari orang yang ingin hidup bebas dan merdeka. Kebebasan ini bukanya bebas tanpa batas / merdeka tanpa tanggung jawab, melainkan kemerdekaan manusia sebagai makhluk tuhan yang memiliki keterbatasan kodrati dan sosial. Oleh karena itu agar supaya kemerdekaan itu dapat diwujudkan secara maksimal, maka segala sesuatu harus diperhitungkan berdasarkan kekuatan sendiri.
b. Karena manusia selain individu juga merupakan makhluk sosial sekaligus, maka disamping hak asasi juga lahir pula kewajiban asasi. Dapun kewajiban dari manusia sebagai makhluk sosial adalah bekerja sama satu sama lain, saling menolong dan membantu. Oleh karena itu mendapat bantuan dari pihak lain adalah wajar pula, namun dengan syarat asal bantuan tersebut tidak mengurangi kemerdekaan seseorang baik lahir maupun batin
c. Apa yang diuraikan di muka adalah beberapa syarat / konsekuensi dari siapa saja yang menghendaki untuk dapat mewujudkaan kemerdekaanya semaksimal mungkin. Ini bukanya wujud dari sikap individualistic, melainkan usaha untuk sekecil mungkin menjadi “gawenya” orang lain.
6. ASAS KEENAM :
Oleh karena itu kita harus bersandar pada kekuatan diri sendiri.
Oleh karena kita bersandar pada kekuatan kita sendiri maka haruslah segala belanja dari usaha kita itu dipikul sendiri dengan uang pendapatan biasa.1 inilah yang kita namakan yang menjadi alatnya semua perusahaan ( usaha R.) yang hendak hidup tetap dengan berdiri sendiri. 2
URAIAN :
1. Hubunganya dengan pengelolaan dana, yang pasti diperlakukan bagi setiap usaha, maka syarat untuk dapat tetap kuat dengan mendasarkan kepada kekuatan sendiri, maka segala belanja kita harus didukung oleh pendapatan nyata sesuai dengan kemampuan kita sendiri dengan sikap demikian, maka kita akan selalu menyesuiakan kekuatan. Kemampuan dan keinginan yang akan kita jangkau. Boleh saja diciptakan rencana – rencana besar, namun batasnya adalah juga kemampuan Riil untuk dapat mewujudkanya atas dasar kekuatan sendiri. Jika hal ini disadarkan kepada bantuan / pertolongan pihak lain, pasti rencana itu belum tentu berhasil.
2. Sistem itu yang dinamakan “sistem - opor – bebek”. Jika kita mengoreng daging bebe, karena daging itu sendiri sudah mengandung minyak, maka akan mudah dan cepat matang dengan minyak bebe sendiri. Hal ini mengibaratkan bahwa setiap usaha yang ingin tetap bebas merdeka, hendaknya dalam mengelola dana juga harus berpedoman pada “ sistem opor - men - bebe “.
Cara demikian itu tidak saja hanya berlaku bagi suatu organisasi / kelompok, tetapi bagi kehidupan keluarga atau pribadi, sistem tersebut dapat juaga digunakan.
Sistem itu sudah tentu bekaitan dengan sendi hidup sederhana dan juga hemat. Jika ingin dilengkapi, karena hal itu juga masih ada kaitanya system pengelolaan dana. Ialah kesukaan menabung.
7. ASAS KETUJUH :
Pendidikan hendaklah mendidik anak dengan sepenuh hati, tulus , ikhlas dan tanpa mengharapkan imbalan.
Dengan tidak terikat lahir / batin, serta dengan suci hati, berniatlah kita berdekatan dengan sang anak. Kita tidak meminta sesuatu hak, akan tetapi menyerahkan diri akan berhamba kepada sang anak.
URAIAN :
1. Disini dikemukakan “ sumpah jabatan “ seorang pamong dan sekaligus ditunjukan kemuliaan profesi guru. Pengabdian melalui dunia pendidikan hendaknya merupakan pilihan secara suka rela dengan dilandasi oleh “ sepi ing pamrih “ dan rasa penuh tanggung jawab.
Pendekatan kepada sang anak didasari oleh cinta kasih dan kasih sayang. Bukanya karena tujuan lain, melainkan karena panggilan tugas yang secara naluriah dirasakan sebagai kewajiban manusiawi.
Anak didik dituliskan sebagai sang anak, dimaksud untuk menunjukan kedudukanya sebagai makhluk TME, sehinga pendekatan kepadanya juga merupakan pendekatan kepadanya.
2. Pamong melaksanakan tugasnya bukan karena kewenangan dan kekuasaanya, melainkan didorong oleh kecenderungan hatinya untuk menyerahkan diri kepada tugas pangilanya itu. Niat beramba kepada sang anak hakekatnya juga merupakan penyerahan diri pada – nya sehingga pamong yang melaksanakan tugas mendidiknya dilandasi oleh – nilai tersebut akan merasakan sehinga ibadah kepadanya.
Kata Among berasal dari kata Jawa ”Mong” – ”Ngemong” yang arti harfiahnya adalah melakukan tugas mengasuh anak. Inang – pengasuh tugasnya mengemong anak dalam pertumbuhan, memenuhi segala hal yang dibutuhkanya dalam perkembangan itu. Pada fase kanak-kanak tentu diutamakan untuk kepentingan pertumbuhan ragawinya. Selanjutnya juga diberikannya tuntutan kepada perkembaangan jiwanya.
Untuk menggambarkan sistem pendidikan seperti yang dicita-citakan Tamansiswa itu, yang gagasan aslinya merupakan cetusan Ki Hadjar Dewantara, maka sistem itu lebih tepat dilambangkan dengan Among. AMONG mempunyai pengertian menjaga, membina dan mendidik anak dengan kasih sayang. Pelaksana “among” (momong) disebut PAMONG, yang mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong.
Sistem among mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan/kekerasan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak.
Ki Hadjar Dewantara menetapkan 7 azas Tamansiswa 1922 yang pada butir pertama berbunyi “Sang anak harus tumbuh menurut kodrat (natuurlijke groei) itulah perlu sekali untuk segala kemajuan (evolutie) dan harus dimerdekakan seluas-luasnya. Pendidikan yang beralaskan paksaan-hukuman-ketertiban (regering-tucht en orde) kita anggap memperkosa hidup kebatinan sang anak. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan yaitu pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Itulah yang kita namakan Among Methode.”
Historis kehadiran Sistem Among hanya terkait dalam pelaksanaan pendidikan. Dalam dunia pendidikan ini, Sistem Among merupakan suatu sistem yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan dua dasar, yaitu :
a. Kodrat alam
b. Kemerdekaan.
Tetapi jika ditelaah lebih jauh, maka hakekat Sistem Among bukan saja tepat untuk penyelenggaraan pendidikan, melainkan merupakan sustu sistem sosial yang dapat terjadi dimana saja, asal terjadi hubungan antar manusia.
Dalam hubungannya anatara manusia dengan manusia, maka penerapan Sistem Among mengharuskan penempatan manusia sebagai subyek dan obyek antar sesamanya. Artinya seseorang menjadi subyek dan obyek sekalian terhadap manusia lainnya. Dalam hubungan ini diwajibkan untuk saling memanusiakan manusia, menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, saling harga-menghargai, saling hormat-menghormati sesamanya.
Dengan menempatkan alam sebagai wawasan hubungan, maka hubungan manusia dengan alam berdasarkan Sistem Among, mewajibkan manusia untuk melakukan penyesuaian dan mengusahakan kelestarian lingkungan hidupnya. Dalam kedudukan dan hubungan yang demikian inilah maka seluruh potensi alam akan berguna dan dapat dimanfaatkan oleh dan untuk manusia.
Dalam hubungannya dengan Tuhan, maka manusia sadar akan kedudukannya sebagai hamba dan makhlukNya, dan karenanyalahirlah sifat menyembah dan pengabdian.
Jika hubungan antara manusia dengan manusia diartikan juga hubungan antara manusia dengan masyarakat, maka situasinya akan sangat ditentukan oleh bagaimana kedudukan manusia itu terhadap masyarakat; maka akan lahirlah berbagai sistem sosial tertentu.
Menempatkan manusia sebagai subyek, dimana manusia akan secara leluasa menggunakan hak asasinya, maka akan terciptalah sistem liberalisme. Kalau manusia berkedudukan sebagai obyek, sedang masyarakatlah yang dominan, maka kreativitas manusia sebagai warganya terkekang, maka lahirlah sistem otoriter. Sistem Among yang menolak kedua-duanya dan menempatkan manusia sebagai subyek dan obyek sekaligus, maka akan lahirlah suatu sistem yang demokratis, karena mengutamakan keseimbangan antara perwujudan hak asasi dan kewajiban hak asasi. Demikanlah kiranya wijud demokrasi kekeluargaan atau demokrasi yang mengakui kebijaksanaan kepemimpinan.
Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa memiliki dua naluri pokok :
a. Untuk mempertahankan jenis, dan
b. Untuk mengembangkan jenis.
Mempertahankan jenis maksudnya ialah memmpertahankan eksistensi atau menjaga kelangsungan hidup manusia dan juga termasuk usahanya untuk mendapatkan kesejahteraan hidup.
Sedangkan mengembangkan jenis maksudya untuk mengembangkan manusia itu secara kuantitatif.
Aspek mempertahankan jenis adalah aspek individual, karena manusia secara pribadi harus dapat tetap hidup dengan memenuhi segala keperluan hidupnya. Untuk itu manusia membentuk keluarga dan selanjutnya terjadilah proses pengembangan jenis manusia.
Dari hal di muka dapat diketahui beberapa hal yang sifatnya kodrati pada kehidupan manusia ialah :
a. Mengusahakan kelangsungan hidupnya
b. Mengusahakan kesejahteraan hidup
c. Keharusan saling bekerjasama dan
d. Keharusan saling membantu.
Kenyataan tersebut menempatkan manusia masing-masing sebagai pribadi, dalam posisi untuk saling ketergantungan dengan sesamanya. Jelaslah bahwa manusia hakekatnya merupakan makhluk sosial secara sekaligus, dalam kedudukanya yang demikian itu, maka manusia melakukan hubungan yang relatif yang sifatnya horizontal dan vertikal.
Hubungan itu meliputi :
a. Manusia dengan alam ( penyesuaian – kelestarian )
b. Manusia dengan manusia ( sosial - kemasyarakatan )
c. manusia dengan tuhan YME (menyembah – pelindung )
Dari proses hubungan manusia dengan alam dan manusia dengan sesamanya terjadilah kebudayaan, dalam usaha manusia untuk meyelesaikan segala ciptaan Tuhan, yang rupanya olehnya sengaja di ciptakan dalam keadaan “belum selesai”. Baik alam maupun manusia keduanya “belum sempurna” sehingga di perlukan proses penyempurnaan oleh manusia. Oleh karena itu kehidupan ini selalu berada dalam evolusi yang terus - menerus. Proses inilah yang kemudiaan melahirkan kebudayaan, dan manusia mempunyai kedudukan sentral. Manusia adalah pelaku, pencipta dan pengarah serta pemamfaat kebudayaan itu sendiri.
Dengan uraian ini maka jelaslah arti definisi Ki Hajar Dewantara, bahwa kebudayaan adalah buah budi manusia dalam mengatasi alam dan jaman. Memang kebudayaan hakekatnya merupakan upaya manusia dalam usaha untuk mempertahankan hidup, mengembangkan jenisnya (generasinya) dan meningkatkan taraf kesejahteraan hidupnya, dalam keterbatasan jasmani serta sumber alam yang mengelilinginya.
Dalam peoses hubungan antar manusia itu diketemukan sumbernya yang merupakan sifat kodrati manusia, ialah : Kemerdekaan, kemanusiaan dan kebangsaan sebagai karunia Tuhan YME.
Dalam hubungannya dengan Tuhan YME dilahirkan sifat pengabdian dan asas kodrat alam yang merupakan menifestasi dari kekuasaanNya.
Memahami untuk dapat menghayati dan kemudian mengamalkan ajaran ketamansiswaan, pada pokoknya dapat di awali dengan memahami terlebih dahulu sejarah dan asas - asasnya. Pada umumnya bagi setiap murid Tamansiswa di manapun mereka berguru, Ketamansiswaan biasanya terjalin dalam segenap mata pelajaran yang di terimanya, disertai teladan hidup dari para pamongnya.
Kehidupan di lingkunganya perguruan merupakan perwujudan dari pola hidup Ketamansiswaan sesuai dengan apa yang di cita - citakan. Perguruan mencerminkan suasana dan merupakan lingkungan hidup yang bernafaskan asas -asas dan Ajaran-ajaran Ketamansiswanya. Dengan cara demikian para siswa belajar mengenal, memahami dan menghayati ajaran ketamansiswaan, yang selanjutnya akan menjadi pedoman tingkah lakunya dalam pengabdiannya kepada masayarakat, sesamanya dan Tuhan Yang Maha Esa.
Reaksi Terhadap Kolonialisme
Tamansiswa lahir pada jaman penjajahan Hindia Belanda. Peguruan Tamansiswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 juli 1922 di Yogyakarta. Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 mei 1889, dengan nama kecil Suwardi Suryanigrat. Peguruan ini didirikan dalam bentuk yayasan. Latar belakang pendirian adalah bahwa sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda sesungguhnya tidaklah diperuntuhkan bagi kepentingan rakyat Indonesia melainkan untuk kepentingan politik kolonial Belanda, meskipun Mr. C. Th. Van Den Venter mengatakan untuk penebusan dosa kepada rakyat Indonesia. (majlis luhur taman siswa 1979)
Oleh karenanya adalah wajar, bahwa suasana dan kondisi kolonial turut mewarnai kelahiran tersebut dalam bentuk positif terhadapnya.
Pemerintahan kolonial dengan sistem politik kolonialnya tidak memperhatikan kepentingan rakyat dalam segala bidang kehidupannya. Kepetingan sosial, politik, ekonomi, kebudayaan , termasuk pula pendidikannya, tidak mendapat perhatian sebagaimana mestinya.
Hak asasi manusia tidak dihiraukan, kehidupan politik di kekang. Dalam bidang ekonomi terjadi proses kemiskinan dan usaha untuk menjadikan rakyat Indonesia tergantung fihak lain dan tidak mampu berdikari. Perkembangan kebudayaan barat, untuk lambat laun meghilangakan kebudayaan bangsa Indonesia. Melalui pendidikan kolonialnya sengaja diterlantarkan agar supaya rakyat tetap tinggal bodoh, nasionalisme tidak dikembangkan dan justru dilaksanakan “devide et impera”.
Dalam kondisi kemasyarakatan yang demikian itulah Tamansiswa dilahirkan. Menantang untuk dilawan dan ditiadakan. Hal – hal yang tidak sesuai dan bahkan yang bertentangan dengan aspirasi bangsa Indonesia perlu diganti.
Hal – hal yang tidak dikehendaki karena bertentangan dengan aspirasi bangsa Indonesia dan hal – hal yang harus dapat mengantikannya telah melahirkan dan menjiwai asas – asas dan tujuan perjuangan Tamansiswa. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan bahwa kondisi itu turut mewarnai kelahiran Tamansiswa.
Adapun Azas Tamansiswa (1922)
1) Setiap orang berhak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertib persatuan dalam kehidupan umum.
2) Pendidikan yang diberikan hendaknya dapat menjadikan manusia yang merdeka.
3) Pendidikan hendaknya didasarkan atas keadaan dan budaya Indonesia.
4) Pendidikan diberika kepada seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
5) Untuk mencapai azas kemerdekaan maka kita harus bekerja sesuai kemampuan diri sendiri.
6) Oleh karena itu kita harus bersandar pada kekuatan diri sendiri.
7) Pendidikan hendaklah mendidik anak dengan sepenuh hati, tulus , ikhlas dan tanpa mengharapkan imbalan.
I. ONDERWIJS DAN PENGHIDUPAN RAKYAT
1. Kekuatan rakyat itulah kekuatan tiap-tiap anggota dari rakyat itu. Segala daya upaya untuk menjungjung derajat bangsa tak akan berhasil, kalau tidak dimulai dari bawah. Sebaliknya rakyat yang sudah kuat, akan pandai melakukan segala usaha yang perlu atau berguna untuk kemakmuran negeri.
2. Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih masih kanak-kanak. Sebaliknya anak-anak yang pada waktu ini kita didik, kelak akan menjadi warganegara kita.
3. Untuk mendapatkan sistem pengajaran yang akan berfaedah bagi perikehidupan bersama, haruslah sistem itu disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat. Oleh karena itu wajiblah kita menyelidiki segala kekurangan dan kekecewaan dalam hidup kita berhubung dengan sifatnya masyarakat seperti yang kita kehendaki.
4. Oleh karena tipa-tiap negara itu terjadi dari beberapa golongan yang masing-masing mempunyai sifat dan kepercayaan sendiri-sendiri, haruslah kita memahamkan perbedaan-perbedaan pgolongan itu agar terwujudlah azas persatuan yang selaras (harmonis) dan menurut keadilan (natuurlijk).
5. Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedangkan kemerdekaan hidup batin itu terdapat dari pendidikan.
6. Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi berdasarkan atas kekuatan sendiri.
7. Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai anggauta dari persatuan (rakyat).
Didalam hidup merdeka maka seseorang harus senantiasa ingat, bahwa ia hidup bersama-sama dengan orang-orang lain, yang tergolong menjadi suatu bahagian dari persatuan manusia yang juga berhak menurut kemerdekaanya, dan mereka itu semua lebih besar (rakyat). Demikian seterusnya.
Oleh karena pengajaran itu makin tinggi makin lebih banyak pengaruhnya terhadap kemerdekaan manusia, haruslah pengajaran bagi rakyat (volksschool, 2de Inl. School) dipetinggi sepantasnya.
Lain dari pada itu pendidikan harus mengutamakan kemerdekaan hidup batin, agar supaya orang lebih inyaf akan wajib dan hakikatnya sebagai anggota dari persatuan (rakyat).
8. Dalam pendidikan harus senantiasa diingat, bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam : berdiri sendiri (zelfstandig), tidak bergantung kepada orang lain (onafhankelijk) dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijheid, zelfbeschikking).
Beratlah kemerdekaan itu! Bukan hanya tidak terperintah saja, akan tetapi harus juga dapat menegakkan dirinya dan mengatur perikehidupannya dengan tertib. Dalam hal ini termasuk juga mengatur tertibnya perhubungan dengan kemerdekaan orang lain.
9. Untuk mencapai kesatuan dalam aksi pengajaran yang berguna bagi ketertiban hidup rakyat, haruslah ada ‘persatuan’ yang mengandung arti: persatuan dalam hal keperluan yang penting-penting dan yang diakui oleh semua golongan persatuan sedemikian itulah yang selaras dan yang diakui oleh semua golongan persatuan sedemikian itulah yang selaras dan natuurlijk (wajar). Janganlah mengejar persatuan dalam hal-hal yang kecil-kecil dan dalam mana keperluan dari golongan yang satu bertentangan dengan keperluan golongan yang lain. Persatuan yang tidak harmonis (sesuai) dan tidak menurut keadaan yang nyata (natuurlijk) niscaya hanya persatuan yang dibuat-buat saja, yang timbulnya hanya dari paksaan atau tipu muslihat belaka, sehingga tidak dapat tahan lama dan akan pecah lagi.
II. PENGAJARAN DAN KEBANGSAAN
10. Pengajaran nasional itulah pengajaran yang selaras dengan penghidupan bangsa (maatscappelijk) dan kehidupan bangsa (cultureel). Kalau pengajaran bagi anak-anak kita tidak berdasarkan kenasionalan, sudah tentu anak-anak kita kita tak akan mengetahui keperluan kita, lahir maupun batin; lagi pula tak mungkin anak itu mempunyai rasa bangsa dan makin lama makin terpisah dari bangsanya, sehingga kemudian barangkali menjadi lawan kita.
11. Pengajaran nasional itulah hak dan kewajiban kita. Pemerintah di Indonesia ini adalah pemerintah Nederland yang bersikap kolonial; dulu kapitalis, sekarang etis. Sudah selayaknya pemerintah senantiasa kecewa melihat hasil pengajaran bagi rakyat kita. Sesungguhnya kita sendirilah yang dapat merasakan dan memikirkan akan kepentingan pengajaran nasional, sebelum kita mempunyai Pemerintahan Nasional sendiri!
12. Agar dapat mendapatkan kemerdekaan yang luas dalam melaksanakan pengajaran nasional, seharusnyalah kita tidak menerima subsidi dari pemerintah, dari orang atau badan lain yang akan dapat mengurangi keleluasaan kemerdekaan itu. Kalau kita menerima subsidi, sekalipun dengan diberi kemerderkaan dalam berbagai hal yang termuat dalam ordonasi subsidi, setidak-tidaknya kita berhutang budi kepada yang memberi subsidi (zedelijk verplichting) dan yang demikian itu berat dan dapat membahayakan.
13. Sebaliknya bolehlah bantuan uang dari siapapun juga kita terima, asalkan kita tidak akan terikat, baik lahir maupun batin. Pada umumnya janganlah sekali orang dapat melawan pengaruh orang yang bersikap baik kepadanya. Maka hal ini haruslah kita insyafi benar.
14. Untuk mengekalkan kemerdekaan kita dalam pengajaran nasionaln dengan tak bersubsidi haruslah kita menjalankan zelfbudruipingssijsteem (sistem pembiayaan diri sendiri), boleh dibantu oleh “steunfounds” atau dana/badan bantuan, yang anggauta-anggautanya sebagai penderma tidak boleh berpengaruh dalam urusan pengajaran yang dibantunya, zelfbudruipingssijsteem itu berat; menyebabkan nafkah guru-guru hanya sekedarnya dan sifatnya rumah sekolah juga seadanya. Tetapi seringkali keadaan semacam itu dapat menimbulkan ‘idealisten’ (citawan). Kalau dapat bantuan dari steunfounds,haruslah steunfounds itu kepunyaan sendiri. Anggotanya bukan lagi anggota badan pengajaran, tetapi melulu anggota dari dana tersebut; hanya pengurusnya harus selalu berhubungan dengan pengurus pengajaran.
15. Meskipun tiap-tiap sekolah nasional boleh mengadakan dana bantuan sendiri-sendiri, akan tetapi haruslah ada Dana Bantuan yang umum.
Seringkali sekolah nasional di tempat yang kecil-kecil itu hanya sedikit pendapatannya atau tidak dapat mendirikan dana bantuan. Dalam hal itu pantaslah disokong, misalnya dengan uang yang dikumpulkan secara sukarela oleh anggauta-anggauta sekolah itu sendiri. Lagi pula biaya mendirikan sekolah itu juga seringkali tidak dapat dipikul dengan uang pendapatan saja.
16. “Steunfounds” umum tadi harus dipergunakan juga sebagai badan pemberi “steunfounds” (beasiswa), teristimewa kepada murid-murid yang pantas ditolong guna meneruskan pelajarannya, apa bila pengajaran yang diterimanya itu tidak dianggap sah oleh steunfounds- steunfounds biasa.
_____________
Prasaran pada Kongres P.P.P.K.I. (Permufakatan Persatuan Pergerakan Kebangsaan Indonesia) ke-1 pada 31 Agustus 1928 di Surabaya
*Dikutip dari buku karya Ki Hadjar Dewantara bagian pertama :Pendidikan

