twitter
rss


"Kita tidak membutuhkan penjejalan, tapi kita membutuhkan pengembangan dan penyempurnaan pikiran dari setiap siswa dengan pengetahuan yang berasal dari fakta-fakta yang mendasar". ~Karl Marx~

Banyak Baca Banyak Rasa


Diskusi Awal Tentang Filsafat[1]
Oleh Moh. Fathoni[2]
“If God had all truth in his right hand and the lifelong search for truth in his left, which hand would you choose? [Jika Tuhan meletakkan seluruh kebenaran di tangan kanan-Nya dan pencarian kebenaran sepanjang hayat di tangan kiri-Nya, tangan mana yang akan anda pilih?]” kata Kierkegaard.


Saya akan mengawali diskusi ini dengan cerita singkat isi buku Jonathan Livingston Seagull. Buku kecil itu mengisahkan seekor burung yang aneh—burung camar, seperti yang ditunjukkan oleh judulnya, seagull. Pada mulanya, burung yang bernama Jonathan ini melakukan eksperimen berbagai cara terbang. Sementara semua kawannya menggunakan keterampilan terbang mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam hidup mereka, Jonathan memandang bahwa terbang merupakan keterampilan yang harus dituntut demi cara terbang itu sendiri. Akan tetapi, ketika ia menguji-coba metode barunya untuk terbang dengan kecepatan tinggi, pemimpin-pemimpin kawanannya terusik, yang menanggapinya dengan mengasingkan dia ke “tebing-tebing yang jauh”. Setelah ia tinggal lama sendirian, dua ekor burung misterius datang dan membawanya ke tempat lain.
Di Bagian Dua, Jonathan belajar tentang cara terbang baru yang tidak berfokus pada sayap dan bulu, tetapi pada pikiran dan imajinasi. Ia jauh lebih cepat daripada semua burung lain di dunia baru ini, ketika tiba-tiba ia memutuskan bahwa ia harus kembali ke dunia lamanya. Jadi, ia pulang ke tebing-tebing yang jauh tersebut. Kemudian bagian ketiga dan terakhir dari kisah ini menceritakan bagaimana ia mengumpulkan beberapa burung buangan [seperti dirinya] dan mulai mengajari mereka cara terbang dan cara memahami penerbangan. Tidak lama setelah mereka mempelajari beberapa keterampilan dasar, murid-muridnya bersama-sama dengan Jonathan pulang ke kawanan lamanya, yang dulu membuang mereka. Di situlah mereka menyelenggarakan kursus di pantai, dan akhirnya sebagian dari burung-burung dari kawanan lamanya menunjukkan minat untuk mempelajari cara terbang. Ketika mereka mulai belajar demi mereka sendiri, Jonathan membiarkan mereka tetap mandiri.
Nah sekarang, saya ingin mendengar jawaban dari anda tiga pertanyaan berikut ini:
1]    Dalam cerita ini, kata terbang melambangkan apa?
2]    Mengenai perburuan kealiman, cerita ini mengatakan apa?
3]    Ke mana Jonathan pergi di Bagian Dua?

Cerita burung camar tadi mirip perjalanan hidup manusia. Kisah hidup manusia adalah perkembangan sejarah yang paling menakjubkan di banding mahluk hidup manapun di bumi ini. perkembangan peradaban manusia dari awal adanya manusia hingga sampai saat ini adalah sesuatu yang tidak lahir begitu saja, butuh waktu ribuan tahun dari pertama api di temukan sebagai sumber penerangan kemudian di gantikan dengan lampu listrik seperti saat sekarang, semua yang lahir adalah setelah pengalaman dan hasil percobaan-percobaan manusia yang tidak kenal lelah, manusia juga memahami bahwa manusia memerlukan alam untuk melanjutkan hidup, alam yang harus diolah agar tetap mampu menyediakan kebutuhan manusia yang populasinya terus berkembang bahkan juga mampu memahami bahwa antara manusia yang satu dengan yang lain juga mempunyai hubungan, bagaimana ia harus hidup dalam kelompok dan bagaimana juga manusia menghadapi perubahan-perubahan.
Pertanyaan "apa itu", "dari mana", “mengapa”, dan "ke mana" pertanyaan-pertanyaan ini terus mengemuka dan timbul dalam benak manusia, orang tidak hanya mencari pengetahuan sebab dan akibat dari suatu masalah, tetapi mulai mencari sampai tingkat kebenaran sesuatu sampai paling mendasar, karena hal tersebut disadari atau tidak adalah hal yang mampu memandu kehidupan manusia. Artinya cara manusia memandang sesuatu di tentukan bagaimana ia mampu memahami hakekat yang paling mendasar, dari situ pula menentukan cara manusia menyelesaikan sebuah persoalan,cepat atau lambat, tepat atau tidak memang akan sangat tergantung bagaimana tingkat pemahaman manusia dalam memandang dan menganalisa sesuatu. Manusia dan kehidupan sosial memiliki hubungan yang erat. Pemikiran manusia ditentukan oleh masyarakatnya. Masyarakat akan dipengaruhi oleh lingkungannya, baik alam, maupun penduduk. Cara manusia mempertahankan hidup, akan menentukan kesadaran manusia.
Apa itu Filsafat?
Kata filsafat berasal dari bahasa yunani, Philos, yang artinya pecinta dan Sophia, yang artinya kebijaksanaan, Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati. Atau bisa didefinisikan sebagai pencarian terhadap kebenaran yang hakiki. Demikian arti filsafat pada mulanya, kemudian pada perkembangannya, mengalami perlusan yang kompleks. Artinya filsafat mengajak kita untuk memahami kebenaran sesuatu sampai pada akar-akarnya, maka filsafat menempati posisi sebagai induk segala ilmu dan pengetahuan. Karena dari filsafat-lah orang memulai mempertanyakan dan mencari jawaban segala sesuatu. Dapat kita mengerti filsafat secara umum, yaitu suatu ilmu [induk ilmu] yang berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Sedangkan ilmu pengetahuan merupakan cabang darinya yang berkubang pada permasalahan khusus dan spesifik. Filsafat akan mengajak kita untuk berpikir dan menggambarkan kita untuk tindakan, yang akan memandu hidup kita,sebenarnya tidak ada manusia yang hidup tanpa berlandaskan filsafat, hanya persoalan tahu atau tidak tentang filsafat itu sendiri.

Ilmu dalam Filsafat:
Manusia menggunakan akal budi dan pikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan [realitas] yang terjadi.  Proses itu mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pengetahuan.  Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan  koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang [1] disusun metodis, sistematis dan koheren [“bertalian”] tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan [realitas], dan yang [2] dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang [pengetahuan] tersebut.
Makin ilmu pengetahuan menggali dan menekuni hal-hal yang khusus dari kenyataan [realitas], makin nyatalah tuntutan untuk mencari tahu tentang seluruh kenyataan [realitas].
Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan [realitas]. Filsafat merupakan refleksi rasional [pikir] atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat [= kebenaran] dan memperoleh hikmat [= kebijaksanaan].  
Al-Kindi [801 - 873 M] pernah berkata, bahwa kegiatan manusia yang bertingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia. Bagian filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran.
Karl Popper menulis "semua orang adalah filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan kematian.  Ada yang berpendapat bahwa hidup itu tanpa harga, karena hidup itu akan berakhir.  Mereka tidak menyadari bahwa alasan yang terbalik juga dapat dikemukakan, yaitu bahwa kalau hidup tidak akan berakhir, maka hidup adalah tanpa harga; bahwa bahaya yang selalu  hadir yang membuat kita dapat kehilangan hidup sekurang-kuran gnya ikut menolong kita untuk menyadari nilai dari hidup".  Mengingat berfilsafat adalah berpikir tentang hidup, dan "berpikir"= to think [Inggris], denken [Jerman], maka menurut Heidegger [1889-1976], dalam "berpikir" sebenarnya kita "berterimakasih"= to thank [Inggris], danken [Jerman] kepada Sang Pemberi hidup atas segala anugerah kehidupan yang diberikan kepada kita.
Menarik juga untuk dicatat bahwa kata "hikmat" bahasa Inggerisnya adalah "wisdom", dengan akar kata "wise" atau "wissen" [jerman] yang artinya mengetahui. Dalam bahasa Norwegia itulah "viten", yang memiliki akar sama dengan kata bahasa Sansekerta "vidya" yang diindonesiakan menjadi "widya". Kata itu dekat dengan kata "widi" dalam "Hyang Widi"=  Tuhan.  Kata "vidya" pun dekat dengan kata Yunani "idea", yang dilontarkan pertama kali oleh Socrates dan Plato dan digali terus-menerus oleh para filsuf sepanjang segala abad.
Menurut Aristoteles [384-322 sm], pemikiran kita melewati 3 jenis abstraksi [abstrahere= menjauhkan diri dari, mengambil dari]. Tiap jenis abstraksi melahirkan satu jenis ilmu pengetahuan dalam bangunan pengetahuan yang pada waktu itu disebut filsafat. Tetapi ada hal yang membedakan seseorang berpikir filsafat atau tidak, Kattsoff dalam bukunya Elements of Philosophy, menjelaskan batasan filsafat secara umum untuk melengkapi pengertian kita tentang "filsafat". Pengertian ini juga sekalian menegaskan perbedan pemikiran filsafat dengan lainnya. Bilamana seseorang berpikir secara filsafat.

Filsafat adalah berpikir secara kritis dan radikal [mendasar].
Dasar munculnya filsafat adalah pencarian terhadap kebenaran hakiki. Ada banyak permasalahan yang tidak terjawab, tidak tuntas dijawab atau jawaban yang ada tidak memuaskan. Filsafat berlatarbelakang keresahan terhadap permasalahan tersebut. Tidak akan pernah muncul pemikiran filsafat jika tidak ada keresahan. Maka kemudian, setiap orang berfilsafat adalah orang yang berpikir kritis untuk memecahkan permasalahan yang meresahkan tersebut. Untuk mencari sumber masalah dan mengatasinya menggunakan analisa dan berpikir mendasar, esensial, artinya dengan mencari dan menentukan akar masalah yang tengah dihadapi, sehingga tidak keliru tentang problem sebenarnya atas realita yang terjadi.
Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis dan runtut.
Walaupun cakupan filsafat sangat luas, namun bukan berarti tanpa sistematika. Filsafat akan mempertanyakan hal yang paling hakiki. Dari segala sesuatu yang ada, filsafat akan mencari substansi segala sesuatu tersebut dengan metode yang secara sistematis menuju jawaban terhadap pertanyannya. Menemui hal-hal yang khusus dari masing-masing hal, kemudian mencari sifatnya yang umum, serta mencari jawab atas substansi secara umum, dengan peralatannya [logika].
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam filsafat bukanlah pertanyaan yang acak, namun berurutan dan konsiten, tidak merupakan pertanyaan yang saling bertentangan satu sama lainnya. Filsafat juga bermula dari menjawab substansi umum, kemudian menjelaskannya sesuai dengan tingkatannya dalam hubungan-hubungannya. Dapat bermula dari segala sesuatu, yang ada, yang nyata, yang eksis, dari alam, makhluk hidup, manusia, serta esensinya.
Filsafat adalah berpikir secara rasional.
Harus ada pertanggungjawaban dan penjelasan yang bisa diterima oleh nalar manusia terhadap semua hasil-hasil pemikiran. Ada alasan dan bukti yang secara umum diakui kebenarannya. Semakin nyata sebuah pemikiran, diakui banyak orang, semakin dapat diterima pula oleh akal, serta semakin dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Filsafat harus bersifat komprehensif dan holistik [menyeluruh dan utuh].
Tidak ada sesuatu hal yang dapat terpisah sama sekali dari yang lainnya. Filsafat memiliki cakupan yang paling luas dan akan menjelaskan segala sesuatu beserta saling hubungannya. Tidak dapat dikatakan sebagai filsafat jika telah memiliki batasan tema, namun merupakan ilmu. Filsafat sebagai usaha tertib, metodis, yang dipertanggungjawabkan secara intelektual untuk melakukan apa yang sebetulnya diharapkan dari setiap orang yang tidak hanya mau mengikuti arus [ikut-kutan] saja. Untuk mengerti, memahami, mengartikan, menilai, mengkritik data-data dan fakta-fakta yang dihasilkan dalam pengalaman sehari-hari dan melalui ilmu-ilmu.
Filsafat sebagai berpikir rasional [logika] dan dapat dipertanggungjawabkan, setidaknya dalam 3 prasyarat pokok, yaitu:
1.      Ontologi, secara sederhana filsafat mampu menjawab “apa” yang dipelajari. Ontologi adalah pencarian terhadap sebab-sebab kejadian segala sesuatu, atau latar belakang terjadinya sesuatu. Ontologi mungkin berisi tentang sejarah ataupun pembahasan mengenai asal-usul sesuatu.
2.      Epistemologi, secara sederhana filsafat mampu menjawab “mengapa dan bagaimana” tentang hal yang dipelajarinya itu. Epistimologi berbicara tentang kemunculan ilmu/pengetahuan manusia mengenai segala sesuatu. Antara ontology dan epistimologi dapat digambarkan demikian. Secara ontology, masyarakat sudah ada sejak adanya manusia secara berkelompok. Namun ilmu tentang masyarakat [sosiologi] baru muncul setelah abad XIX. Secara epistimology, baru pada saat itulah muncul pengetahuan/ilmu mengenai masyarakat.
3.      Aksiologi, setidaknya filsafat mampu menjawab “kemana” arah berikutnya untuk menjawab persoalan awal, atau bagaimana selanjutnya. Aksiologi berisi tentang panduan dan tuntunan arah dari filsafat ilmu itu sendiri. Apa yang hendak dicapai, merupakan landasan aksiologi filsafat ilmu.
Tiga hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan, harus utuh. Tetapi, jika tidak logika bisa untuk “membenarkan kesalahan” dan “menyalahkan kebenaran”, bisa untuk menindas dan menolong yang tertindas, to colonize or to free. Logika adalah suatu sistem berpikir. Logika membagi beberapa pernyataan sangat tegas jika ya berarti bukan tidak. Begitu juga sebaliknya. Sangat dikotomis, membagi dua dengantegas. Selain itu logika mengandalkan hukum sebab akibat. Dalam logika a=b, b=c, maka a=c dapat disimpulkan, seperti silogisme.
Obyek material dan obyek formal
Ilmu filsafat memiliki obyek material dan obyek formal.  Obyek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan [materi] pembicaraan, yaitu gejala "manusia di dunia yang mengembara menuju akhirat".  Dalam gejala ini jelas ada tiga hal menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat.  Maka ada filsafat tentang manusia [antropologi], filsafat tentang alam [kosmologi], dan filsafat tentang akhirat [teologi - filsafat ketuhanan; kata "akhirat" dalam konteks hidup beriman dapat dengan mudah diganti dengan kata Tuhan].  Antropologi, kosmologi dan teologi, sekalipun kelihatan terpisah, saling berkaitan juga, sebab pembicaraan tentang yang satu pastilah tidak dapat dilepaskan dari yang lain.  Juga pembicaraan filsafat tentang akhirat atau Tuhan hanya sejauh yang dikenal manusia dalam dunianya.
Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem filsafat.
Filsafat berangkat dari pengalaman konkret manusia dalam dunianya.  Pengalaman manusia yang sungguh kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin dinyatakan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi  [merupakan hal yang ada dalam setiap pengalaman] menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat dapat diungkapkan menjadi tersurat.
Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. "Segala manusia ingin mengetahui", itu kalimat pertama Aristoteles dalam Metaphysica. Obyek materialnya adalah gejala "manusia tahu".  Tugas filsafat ini adalah menyoroti gejala itu berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali "kebenaran" [versus "kepalsuan"], "kepastian" [versus "ketidakpastian"], "obyektivitas" [versus "subyektivitas"], "abstraksi", "intuisi", dari mana asal pengetahuan dan kemana arah pengetahuan.   Pada gilirannya gejala ilmu-ilmu pengetahuan menjadi obyek material juga, dan kegiatan berpikir itu [sejauh dilakukan menurut sebab-musabab pertama] menghasilkan filsafat ilmu pengetahuan.  Kekhususan gejala ilmu pengetahuan terhadap gejala pengetahuan dicermati dengan teliti.  Kekhususan itu terletak dalam cara kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.

Obyek Formal Filsafat
Filsafat memiliki banyak konsepsi untuk menjelaskan segala hal. Diantaranya adalah kategori yang menjelaskan kepada kita wilayah dan sifat yang saling berbeda. Pemahaman tentang ini akan membantu kita supaya tidak “kabur” dalam memahami sesuatu. Dalam filsafat dikenal;
a.      Bentuk dan Isi
Bentuk selalu meliputi isi. Bentuk adalah penampakan dari segala sesuatu [isi]. Sedangkan isi adalah intinya. Isi yang memberi bentuk kepada kenyataan. Bentuk juga melindungi isi. Antara bentuk dan isi selalu sesuai.
b.      Gejala dan Hakekat
Gejala adalah penampakan yang ditangkap indera. Sedangkan hakekat adalah substansinya. Gejala muncul dari hakekat, namun tidak semua gejala sama dengan hakekatnya. Bisa juga gejalanya bertentangan dengan hakekat, jika kondisinya memaksa demikian. Gejala yang nampak pada kapitalisme adalah “humanis” namun hakekatnya penindasan.
c.       Sebab dan Akibat
Sebab akan menimbulkan akibat, dan akibat akan menjadi sebab di kemudian hari, begitu seterusnya. Sebab selalu mendahului akibat, dan akibat selalu muncul setelah ada penyebabnya. Hubungan antara sebab dan akibat tidaklah linear. “setiap sebab, selalu mendatangkan akibat, namun tidak semua akibat, berasal dari sebab yang sama”. yang sama”. Misalnya [sebab] manusia dipenggal kepalanya, ia akan mati [akibat]. Namun tidak semua manusia mati [akibat], disebabkan kepalanya dipenggal, mungkin karena kecelakaan, dsb.
d.      Keharusan dan Kebetulan
Keharusan adalah sesuatu yang tidak boleh tidak, “pasti terjadi”. Keharusan menuntut segala sesuatu dipenuhi. Sedangkan kebetulan adalah tidak tentu, ia merupakan pertemuan antara dua keharusan oleh karena kondisi material.
Jadi, filsafat adalah pandangan manusia yang paling umum mengenai dunia secara keseluruhan mengenai gejala-gejala alam, masyarakat dan pikiran atau pengetahuan itu sendiri, oleh karenanya masalah hubungan antara pikiran dan keadaan, antara subyektif manusia dengan dunia obyektif. Mengenai hubungan tersebut dapat dilihat berikut. 
mengetahui
                                                [kepastian subyektif, kepastian obyektif]

                                mengabaikan                                                                   menyatakan
[ketidakpastian subyektif, kepastian obyektif]   [ketidakpastian subyektif, ketidakpastian obyektif]
                                               
                                                                              meyakini
                [kepastian subyektif, ketidakpastian obyektif]

Akhirnya, kita kembali melihat dan berpikir tentang sosok Sokrates. Tokoh peletak dasar filsafat ini menghargai kehidupan yang berperiksa-diri dengan sengaja menumbuhkan keragu-raguan terhadap apapun. Hanya dengan menghidupkan kehidupan semacam itu manusia bisa berbudi luhur dan juga turut mengantar masyarakat yang laik:
For I spend all my time going about trying to persuade you, young and old, to make your first and chief concern not for your bodies nor for your possessions, but for the highest welfare of your souls ... Wealth does not bring goodness [i.e., virtue], but goodness brings wealth and every other blessing, both to the individual and to the state. [Saya curahkan seluruh waktu saya dengan melakukan upaya membujuk kalian, pemuda dan orang tua, agar kepedulian pertama dan utama kalian bukan demi raga kalian atau pun harta kalian, melainkan demi kesejahteraan tertinggi jiwa kalian...Kekayaan tidak membawa kebaikan [yakni keluhuran], tetapi kebaikan membawa kekayaan dan segala berkah lainnya, baik bagi individu maupun bagi negara].

Senarai Pertanyaan
Siapakah kita? Apakah kita memang hidup? Apa itu hidup? Apa ini bukan ilusi atau pikiran atau perasaan saja? Apakah memang kita ini ada? Apa yang membuat kita ini ada? Apa itu ada? Siapa yang membuat kita ada? Mengapa harus ada? Takdir, apakah manusia memiliki takdir? Apa itu takdir dan untuk apa kita hidup? Apa artinya kita hidup? Apakah sesuatu bermakna karena kita beri atau bermakna dalam dirinya sendiri? jika kita hidup apakah ada suatu jalan hidup yang lebih berharga dari pada jalan hidup yang lain? Bagaimana menjalani hidup? Bagaimana mengetahui jalan hidup yang baik? Atau jangan-jangan semua hidup itu sama saja?
Lalu, apakah kita sudah hidup dengan baik? Apa itu kebaikan? Apa itu keburukan? Mengapa sesuatu dikatakan lebih baik untuk dilakukan? Jangan-jangan kebaikan dan keburukan itu Cuma ada di kepala kita? Atau ada standard dari atau bentukan dari yang punya kekuasaan? Mereka membuat standar kebaikan untuk kepentingan mereka sendiri dan memperdayai kit? 
Apakah kita punya kenginan? Apa itu ingin? Mengapa kita punya keinginan? Apakah keinginan kita memang kita adalah keinginan orang lain? Lalu apa itu kebebasan? apakah manusia memiliki kehendak bebas, mengapa? Mengapa ada pemaksaan? Ada aturan? Apakah aturan itu benar? Menurut siapa kebenaran itu? Apakah ada standard kebenaran? Siapa yang paling benar? 

Tujuan diskusi ini bukan membuat paham apa itu filsafat tapi semakin mempertanyakan dan mencari lebih lanjut”



[1] Disampaikan dalam diskusi LKAT Demokrasi (Lingkar Kajian Tamansiswa untuk Demokrasi) di kampus FKIP UST pada 5 April 2011.
[2] Pernah kuliah di Jurusan Sastra Inggris UAD dan Jurusan Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga.

Oleh : Irwan Zakaria 2)

PENDAHULUAN

KEBERHASILAN para wirausahawan dunia seperti Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apel Machintos) Hendri Ford (Ford Motor), Seichiro Honda (Honda), Akio Morita (Sony), Konosuke Matsushita (Matsushita), Anita Roddick (The Body Shop), Sam Walton (Wal-Mart), Jerry Yang (Yahoo), Jeff Bezos (Amazone), Piere Omidyar (eBay) Lou Gerstner (IBM), Andy Grove (Intel), dan sebagainya merupakan contoh orang-orang sukses. Kesuksesannya itu tentunya tidak diperoleh dengan leha-leha, tapi didukung oleh semangat juang dan kerja keras.

Untuk mencapai tujuan berupa kesuksesan seperti di atas tentunya perlu semangat juang dalam diri kita dengan baik. Salah satu kekuatan yang dimiliki berupa motivasi yang merupakan daya dorong individu untuk meraih tujuan yang diharapkan. Dengan demikian, tingkat pencapaian tujuan dalam memenuhi kehidupan erat kaitanya tingkat motivasi individu itu sendiri. Motivasi merupakan suatu kekuatan yang ada dalam diri kita untuk menggapai keberhasilan dari sebuah tujuan. Hal ini dipertegas Ary Ginanjar Agustian (2001: 82) bahwa:

Kekuatan pikiran bawah sadar yang merupakan sugesti, adalah sebuah energi dahsyat yang sekaligus sebagai pilot di dalam diri kita… Kekuatan energi akan mengalir dan akan membakar semangat Anda. Tetapkan kemauan Anda. Bedakan antara kemauan “biasa” dengan kemauan yang “membara”. Rahasia untuk sebuah keberhasilan adalah terus menerus mengingat bahwa, Anda lebih baik dari yang Anda pikirkan. Orang yang berhasil bukan orang super. Keberhasilan tidak memerlukan kecerdasan yang luar biasa. Keberhasilan tidak disebabkan oleh keberuntungan. Keberhasilan ditentukan oleh ukuran dari keyakinan Anda untuk meraih kemenangan. Kesuksesan juga ditentukan ukuran pemikiran dan dan cita-cita seseorang. Bercita-citalah setinggi-tingginya…

Motivasi tinggi dalam diri mahasiswa dapat membantu mereka dalam meraih prestasi baik akademik maupun non akademik. Begitu juga dalam dunia kerja atau dunia usaha, tingkat motivasi para karyawan akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas produk. Mengapa demikian? Karena motivasi yang tinggi dapat membantu seseorang bertahan dan dapat mengatasi berbagai kesulitan yang dihadapinya. Dalam dunia kerja/usaha, tidak jarang ditemui situasi yang sulit, kadang kesulitan tersebut berlarut-larut. Bila seseorang tidak memiliki motivasi tinggi, dia akan menyerah mengahadapi situasi yang sulit. Begitu juga dalam perkuliahan, mahasiswa yang memiliki motivasi yang rendah, semangat juang untuk menghadapi permasalahan kurang optimal.

Dalam perusahaan manapun tidak menginginkan pekerja yang harus senantiasa diawasi dan diperintah. Hal itu memakan terlalu banyak tenaga. Begitu pula dalam dunia pendidikan pada jenjang perguruan tinggi. Idealnya, seseorang mahasiswa harus memiliki motivasi dan inisiatif untuk bekerja sehingga hasil yang diberikan dapat melebihi standar yang ditetapkan.

APA ITU MOTIVASI?
Motivasi merupakan keinginan atau kebutuhan dalam diri seseorang yang menggerakkannya untuk melakukan sesuatu untuk memenuhi keinginan tersebut. Motivasi terkait dengan bagaimana seseorang mengelola semangatnya. Faktor luar dapat berperan dengan menciptakan kondisi yang dapat mendorong peningkatan motivasi. Misalkan saja bonus tahunan, hutang yang harus dibayar dan sebagainya. Namun perlu disadari bahwa motivasi yang sesungguhnya hanya bisa timbul dari diri sendiri.

Banyak upaya yang dapat dilakukan pada kegiatan akademik maupun non akademik dalam membangkitkan motivasi para mahasiswa. Menurut Simanjuntak, (1983: 203) motivasi menunjukkan kepada suatu keadaan yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu. Dalam belajar motivasi memegang peranan penting. Tidak ada motivasi berarti tidak ada belajar dalam arti sebenarnya. Selanjutnya, Edward Lee Thorndike melihat hubungan motivasi dengan prinsip belajar yang digagasnya, yaitu law of effect. Dalam law of effect, perbuatan akan diulangi bila perbuatan itu menimbulkan kepuasan.

Dalam ilmu manajemen, kita sebagai manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan. Dari sudut pandang manjemen, pemuasan kebutuhan tersebut berhubungan dengan individu dan pekerjaan/tugasnya, pihak atasan, rekan dan lingkungan kerja.

Berdasarkan Pola Prilaku Motivasional menurut Winardi (2000: 148), kita dapat memeperoleh informasi, di antaranya:
1. Adanya kebutuhan yang belum terpenuh oleh individu. Ketegangan muncul seiring dengan bertambahnya kebutuhan. Ketegangan tersebut menimbulkan suatu motif bagi individu untuk memenuhi kebutuhannya sambil menilai lingkungan dan pengalaman yang dimilikinya untuk mencapai tujuan.
2. Individu yang mempunyai kebutuhan selanjutnya mengidentifikasi kondisi lingkungan sebagai dasar untuk meraih tujuan. Misalnya ingin berprestasi dalam kuliah, maka yang bersangkutan meningkatkan belajarnya dengan sering mengunjungi perpustakaan, mengakses informasi melalui internet, dll.
3. Tidak semua keinginan/kebutuhan tersebut terpenuhi mengikuti pola prilaku motivasional yang normal. Yang bersangkutan mengalami hambatan untuk mencapai tujuan. Sebagai akibatnya, muncul beberapa mekanisme pertahanan berupa agresi, regresi, reginasi dan kompromis.
4. Alternatif kedua, merupakan perubahan dalam prilaku individu dalam mencapai tujuan
5. Alternatif ketiga, individu mengubah tujuan yang ingin dicapainya.

Motivasi sangat penting bagi individu agar sukses dalam menjalani kehidupannya. Salah sebuah kesuksesan misalnya kuliah, bisnis, dll, maka perlu dilakukan penentuan tujuan dari awal. Hal ini ditegaskan pandangan Habsari (2005: 41) bahwa:
Rahasia dari motivasi adalah kalimat yang ampuh di saat setiap pemimpin melakukannya dengan senang hati. Jika kita tidak mempunyai tujuan yang jelas, kita tidak akan dapat mempunyai motivasi. Motivasi bisa hilang begitu saja, seperti menguap di udara, meninggalkan kita sehingga kita menjadi orang yang tidak antusias. Namun, motivasi bias ada dalam diri kita kalau kita punya tujuan jelas sehingga kita akan melakukan “aksi” atau tindakan untuk mencapai tujuan itu. Yang membuat kita melakukan aksi itulah yang disebut motivasi.

Sementara itu, ada satu kunci yang merupakan racun untuk motivasi kita, yang secara pelan-pelan bisa mengubah kesuksesan dan kebahagiaan kita, yaitu “tidak bisa”. Banyak orang kehilangan kesempatan/opportunity dengan bereaksi secara negatif, karena yang ada di pikiran mereka dan yang diucapkan adalah kata “tidak bisa”. Namun, kehidupan akan sukses tidak dengan jalan itu. Ada satu kata lain yang mempunyai kekuatan untuk mengubah semua itu, yaitu “bisa”. Jika yang ada di pikiran kita dan mulut mengucapkan kata “bisa”, kita akan bisa meraih yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Berkaitan dengan pernyataan di atas, penulis masih ingat pesan orang tua yang menyatakan bahwa semua orang itu dilahirkan dalam keadaan sama, tidak membawa apa-apa. Tapi kenapa ada yang jadi insinyur, pedagang, pegawai, pengrajin, dan sebagainya. Katanya, itu tergantung pada usaha dan ketekunan kita.

“Saya bisa” adalah energi. Katakan itu dalam diri kita sendiri mulai sekarang. Katakan lagi, dan lagi, sepanjang hari, sepanjang waktu secara terus menerus. Kita akan menemukan antusias dan semangat kita, dan melakukan aksi untuk mencapai apa yang kita inginkan, apa yang kita tuju. Tidak baik menggunakan kata-kata “tidak bisa”‟ tetapi pikirkan “saya bisa” ‟percaya saya bisa”, dan kita akan menemukan bahwa memang kita bisa melakukannya. Motivasi adalah mencapai tingkatan dan performa yang tinggi. Memotivasi bisa berarti menggerakkan.

Berdasarkan teori dasar motivasi, kepribadian individu terdiri dari jalinan tiga motif dasar (Winardi, 2000: 200), yaitu:
1. Konsep kebutuhan untuk Berprestasi (the need for achievement, n Ach): Kebutuhan untuk mencapai sukses yang diukur berdasarkan standar tertentu. Orang yang memiliki “n Ach” tinggi, cenderung:
mencari dan bersedia menerima tanggung jawab pribadi besar;
menerima risiko yang terkalkulasi;
menetapkan tujuan-tujuan perlu tantangan tetapi realitas bagi diri mereka sendiri;
mengembangkan rencana-rencana komprehensif yang membuat mereka mencapai tujuan-tujuan tersebut;
mencari dan menggunkan “feedback” yang diukur mengenai hasil-hasil tindakan mereka;
mencari kesempatan-kesempatan usaha di amana keinginan-keinginan mereka kiranya tidak akan terhalang.
2. Konsep kebutuhan untuk Berafiliasi (the need for affiliation, n Aff): Tipe individu dengan kebutuhan akan afiliasi yang kuat, berusaha mencari hubungan akrab dan kawan-kawan. Golongan ini senang sekali berkecimpung dalam bidang pekerjaan yang mempunyai banyak interaksi dengan orang-orang lain.
3. Kebutuhan akan Kekuasaan (the need for power, n Pow): Para individu yang mencari kekuasaan biasanya berkecenderungan untuk mencari posisi-posisi kekuasaan atau dengan pengaruh. Golongan ini memiliki pekerjaan di mana otoritas dan kekeuasaan melekat pada posisi yang dimiliki.

MAHASISWA DAN BERORGANISASI
Organisasi mahasiswa memiliki karakteristik yang khas/unik, yang tidak sepenuhnya mengikuti tatanan organisasi yang sebenarnya. Hal ini menjadi mafhum buat orang awam karena mereka dianggap masih dalam taraf belajar berorganisasi. Berorganisasi merupakan sebuah proses yang harus dilalui mahasiswa untuk memunculkan pribadi yang tangguh dalam kehidupan riil di kemudian hari. Suatu kesempatan langka yang sulit terulang dalam periode perkembangan selanjutnya, karena setelah lulus seseorang tidak lagi memulai proses belajar berorganisasi tapi sudah dihadapkan pada situasi organisasi yang sebenarnya. Pengalaman penulis dalam wawancara kerja terhadap para lulusan menemukan bahwa ternyata kemampuan berorganisasi menjadi tolok ukur yang menentukan kapabilitas seseorang dalam menghadapi dunia kerja nantinya.

Keunikan organisasi kemahasiswaan merupakan konsekuensi dari tipikal mahasiswa yang beraneka ragam, baik dari sisi motivasi, potensi raw material dan pengalaman yang didapatkan sebelumnya. Maman S. Mahayana (dalam Mahasiswa Menggugat, 1998) membagi menjadi 6 kategori mahasiswa :
1. Mahasiswa underdog, pada umumnya berasal dari pedesaan, minder, merasa tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, berusaha menjadi mahasiswa yang baik, tapi memiliki motivasi yang tinggi untuk kuliah
2. Mahasiswa salon, mereka datang dari kota dan latar belakang keluarga kaya, menganggap bahwa kuliah hanya sekedar mengisi waktu agar tidak menganggur, disiapkan untuk melanjutkan usaha orang tua, kampus sebagai ajang pamer kendaraan, serta tujuannya lebih pada mendapatkan “status” mahasiswa bukan ingin mendapatkan ilmu yang berguna nantinya.
3. Anak mamih, berasal dari keluarga menengah atas, motivasinya sungguh-sungguh kuliah tapi tidak peduli kegiatan non-akademis, serta bertujuan untuk segera menyelesaikan kuliah dengan hasil yang memuaskan.
4. Mahasiswa jalan pintas, motivasinya hanya memperoleh gelar, sehingga menggunakan berbagai cara untuk mendapat nilai baik.
5. Mahasiswa pekerja, berasal dari keluarga pas-pasan atau memiliki status sebagai karyawan yang ingin segera merubah nasib, biasanya sungguh-sungguh mengikuti kuliah, bahkan sering pula mengikuti kegiatan kemahasiswaan.
6. Mahasiswa unggulan, berasal dari keluarga terpelajar, latar belakang ekonomi orang tua yang baik dan memiliki kapasitas intelektual bagus, serta seringkali memanfaatkan masa kuliah untuk menempa diri dengan berorganisasi atau kegiatan ilmiah lainnya.

Berbagai jenis mahasiswa inilah yang memunculkan konsekuensi sulitnya menemukan orang-orang yang intens untuk mengikuti organisasi kemahasiswaan. Selain itu latar belakang mahasiswa tersebut menyebabkan motivasi untuk melakukan organisasipun menjadi berbeda-beda. Ditambah lagi adanya tekanan psikologis dari orang tua dan lingkungan sosialnya menyebabkan mereka lebih memfokuskan pada kuliah dibandingkan berinteraksi dalam suatu organisasi. Kalaupun ikut dalam organisasi mereka menjadi “setengah hati”, menapakkan kaki kiri pada organisasi dan kaki kanan untuk berkonsentrasi pada kuliah. Oleh karena itu sulit bagi organisasi kemahasiswaan untuk memunculkan prestasi yang hebat dalam bidang organisasi maupun akademis. Hal ini nampak sekali dari partisipasi dalam orkem yang hanya sekedar mencantumkan “nama”, namun sepi akan kreasi dan prestasi yang memadai. Akhirnya Orkem hanya sekedar sebuah “playgroup”, kumpulan anak-anak mahasiswa untuk bermain-main, kumpul-kumpul, nyanyi-nyanyi, dari pagi sampai pagi berikutnya.

Apabila hal ini berlangsung terus menerus, maka lama kelamaan akan mengarahkan pada: tidak adanya proses belajar sosial untuk mencapai tingkat idealisme sebagai mahasiswa; hilangnya sense untuk berorganisasi dengan baik, yang terkait dengan keteraturan; mandulnya improvement terhadap organisasi atau tidak adanya prestasi bisa diandalkan, hanya sekedar menjalankan kebiasaan dari generasi sebelumnya; berorganisasi hanya sekedar “pelengkap” untuk mencari teman, lebih menekankan afektif dalam berorganisasi bukan pada sesuatu yang sifatnya kognitif; serta tumpulnya sensitivitas sosial, kurang responsif terhadap berbagai persoalan di luar yang terkait dengan kajian ilmunya. Kalau semua hal tersebut mengalami repetisi (pengulangan), tentunya akan menjadi sesuatu yang kontradiktif dari pencapaian tujuan berorganisasi yang sebenarnya.

MEMUNCULKAN ORGANISASI MAHASISWA DAN PEMIMPIN YANG “IDEAL”
Organisasi yang ideal tidak selalu berkonotasi dengan kesempurnaan organisasi pada umumnya di perusahaan atau lembaga pemerintahan, namun demikian mencoba untuk realistis dengan kesempatan, uang, waktu, alat dan tenaga (KUWAT) yang dimiliki, namun tetap tidak meninggalkan keteraturan dan tercapainya improvement secara individual maupun organisasi. Oleh karena itu ada beberapa saran untuk memunculkan organisasi mahasiswa yang ideal :
1. Sistem seleksi penting untuk dilakukan untuk mendapatkan mahasiswa yang memiliki motivasi berorganisasi yang baik. Hasil seleksi ini menjadi pedoman dasar bagi rekrutmen pengurus organisasi, sehingga didapatkan “the right man in the right place”. Memang konsekuensi dari seleksi adalah sulitnya mendapatkan orang-orang yang berminat untuk “meramaikan” organisasi, tapi sisi positifnya akan didapatkan orang-orang yang memang serius untuk berkiprah dan membesarkan organisasi.
2. Menciptakan “aturan main” dalam berorganisasi, baik dalam hal hak dan kewajiban anggota sampai dengan punishment dan reward bagi mereka. Aturan main ini tentunya tidak bisa lepas dari aturan yang paling tinggi dari Universitas, yakni Statuta yang menjadi landasan dalam berkegiatan seluruh civitas akademika. Kadang penerapan aturan main ini menjadi kendala tersendiri, karena adanya “rasa sungkan”, ketidakenakan untuk menindak teman sendiri yang merugikan organisasi, sulit mengingatkan “senior” yang buat ulah atau menguasai organisasi. Di sini peran pemimpin sebagai pengendali di lapangan menjadi sangat penting.
Sifat kepribadian sebagai pemimpin yang baik, penulis ambil dari pidato pengukuhan Guru Besar Prof. Djamaludin Ancok (2003) sebagai berikut :
a. Mentalitas berkelimpahan (abundance mentality), orang yang suka membagi apa yang dimilikinya dengan orang lain, orang seperti ini merasa bahwa dengan memberi apa yang dia miliki membuat merasa semakin kaya.
b. Berfikir positif pada orang lain, orang yang seperti ini akan melihat orang lain sebagai bagian dari kebahagiaan hidupnya.
c. Mampu berempati, bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, kepekaan ini akan membuat ia bisa merasakan kegembiraan dan kesusahan orang lain.
d. Memiliki kemmapuan komunikasi transformasional, selalu memilih kata-kata yang enak didengar bila berbicara dengan orang, walaupun dalamkondisi berbeda pendapat.
e. Orientasi win-win solution, tidak menginginkan kebahagiaan dirinya sementara orang lain harus kalah.
f. Serving attitude, bukan minta dilayani tapi melayani kepentingan orang yang dipimpinnya, selain itu selalu berprinsip senang bila orang lain senang dan susah bila orang lain susah, bukan sebaliknya
3. Berorientasi pada perubahan (change oriented goal), artinya setiap organisasi harus membuat target yang realistis untuk dicapai oleh timnya. Namun demikian target tersebut tidak meninggalkan pencapaian improvement (perbaikan) dari kapasitas atau potensi diri pribadi dan organisasi. Target harus dimunculkan secara bottom-up untuk memberikan share of responbility, semua anggota merasa bertanggung jawab terhadap segala aktivitas dan tujuan organisasi, tidak hanya tujuan kepengurusan saja. Namun demikian kendala pencapaian perubahan tidaklah mudah dilakukan, karena perubahan akan memiliki konsekuensi yang besar, baik dari sisi individual, karena merasa sudah nikmat dengan kondisi sebelumnya, dan secara sosial akan memunculkan sebuah sistem interaksi sosial yang sangat berbeda sekali, sehingga bisa menimbulkan ketidaknyamanan dan keluar dari sistem yang ada. Konsekuensi ini seharusnya bisa dihadapi oleh pengurus yang reformis, apabila memiliki motivasi, niat yang tulus dan yang lebih penting lagi “keberanian” untuk memulai.

BAGAIMANA MEMBANGKITAN KEMBALI MOTIVASI
Apa yang harus dilakukan bila motivasi mahasiswa kita hilang? Pertama kali kita harus bertanya pada diri sendiri, apa sebenarnya masalahnya. Turunnya motivasi tidak selalu karena kita malas. Banyak hambatan yang akan mengganggu motivasi kita, misalnya kebiasaan menunda, percaya diri yang rendah, kebiasaan belajar tidak teratur, rasa tegang/cemas, kurang tertarik dan lain-lain. Bila kita merasa motivasi menurun sehingga dapat menghambat dalam mencapai sasaran, beberapa anjuran berikut dapat kita coba.
Evaluasi Tanggung Jawab: Tinjau kembali apakah sasaran kita telah memenuhi criteria yang disampaikan di depan. Apakah sasaran kita tidak realistik, atau kabur? Bila ini benar, kita sebenarnya tidak cukup terarah dalaam menuju sasaran sehingga merasa tidak termotivasi. Mungkin kita dapat termotivasi kembali dengan membuat sasaran menjadi lebih spesifik dan realistik.
Jangan Menghindar: Seringkali kita menunda-nunda pekerjaan yang dianggap paling sulit atau menyebalkan. Tentu sia-sia untuk berharap masalah tersebut akan hilang dengan sendirinya. Jadilah professional. Jangan sampai perasaan tidak suka membuat kita menghindari tanggung jawab. Menghindar hanya akan menambah masalah karena kita akan semakin tertinggal.
Buatlah Skala Prioritas: Terkadang motivasi dapat hilang karena terlalu banyak hal yang harus dilakukan. Terlebih lagi, dalam kehidupan dewasa, keluarga adalah tanggung jawab tambahan yang harus diperhatikan. Solusi yang baik bila ini terjadi adalah membuat larutan prioritas. Hal apa yang harus dikerjakan pertama kali? Yang mana dapat menunggu sampai minggu depan? Dengan menuliskan semua tugas, kita dapat memberikan prioritas sehingga dapat menempatkan beban kita pada perspektif yang benar sehingga dapat diselesaikan pada waktunya.
Tugas yang diberikan akan terasa cepat sekali bertambah banyak bila kita tidak menjaga ritme kerja. Berulang kali terdengar karena keterlambatan dari tenggat waktu, dapat menurunkan motivasi diri dalam bekerja. Ada beberapa cara agar kita dapat memotivasi diri dalam bekerja:
Bagi Tugas Besar menjadi Beberapa Bagian Kecil: Terkadang kita menjadi tidak bersemangat karena melihat begitu banyaknya pekerjaan. Dengan membagi tigas besar menjadi beberapa bagian kecil, pekerjaan tersebut terlihat lebih ringan untuk dikerjakan. Mengerjakan laporan tahunan setebal 250 halaman tentu kelihatan cukup berat. Kita dapat membaginya menjadi beberapa bagian. Mulailah denga bagian-bagian yang informasina telah lengkap tersedia.
Gunakan Aturan Lima Menit: Biasanya, bagian yang paling berat dari mengerjakan apapun adalah menumbuhkan motivasi saat memulainya. Untuk membantu kita adalah menumbuhkan motovasi saat memulainya. Untuk membantu kita mengatasi hal ini, gunakan aturan lima menit. Hanya lima menit. Kita dapat mengerjakan berbagai hal dalam lima menit bukan?
Berilah Penghargaan kepada Diri Kita: Pada dasarnya setiap orang butuh penghargaan atas apa ayang telah dicapai. Adanya penghargaan akan meningkatkan motivasi kita. Namun, kita tidak bias mengaharpkan ada orang yang senantiasa memuji bukan? Setiap kita menyelesaikan suatu sasaran, berilah penghargaan sederhana. Lakukan sesuatu tang kita senangi setelah waktu kerja yang panjang. Bisa membaca novel, jalan-jalan atau menonton film di TV.
Carilah Bantuan Bila Diperlukan: Salah satu hal yang amat melemahkan motivasi adalah kegagalan yang berulang-ulang. Bila kita telah mencoba dengan sungguh-sungguh namun masih belum dapat menyelesaikan sesuatu, mungkin kita memerlukan bantuan. Bertanyalah pada rekan kerja atau atasan mengenai permasalahan yang dihadapi semabri mengungkapkan usaha apa saja yang telah dilakukan. Lebih baik bertanya beberapa pertanyaan dalam satu waktu daripada berulang kali bertanya hanya satu pertanyaan.


DAFTAR PUSTAKA
Ari Retno (2008). Terobosan Kepemimpinan, Panduan Pelatihan Kepemimpinan. Yogyakarta: MedPres.
Ary Ginanjar Agustian (2001). Rahasiah Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: Arga.
Bonar Tigor Naipospos; Fahruz Zaman Fadhly; et al (1999). Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia 1998. Bandung: Pustaka Hidayah.
Djamaludin Ancok, (2003). “Modal Sosial dan Kualitas Masyarakat”. Pidato Pengukuhan Guru Besar UGM. Yogyakarta.
Ichsan S. Putra dan Arianti Pratiwi, (2005). Sukses Soft Skills, Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Sejak Kuliah. Bandung: Direktorat Pendidikan ITB.
Simanjuntak, B. dan Pasaribu I.L. (1983). Psikologi Perkembangan, Dasar Psikologi Kriminil. Bandung: Tarsito
Winardi (2000). Kepemimpinan dan Manajemen. Jakarta: Rineka Cipta

1) Makalah disampaikan dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa Yogyakarta, pada Hari Minggu, tanggal 27 Maret 2011 di Wisma Kaliurang.
2) Ketua Presidium Poros Muda Indonesia 2009-2014, bekerja sebagai Corporate Secretary di PT. Satira Persada – Yogyakarta. E-mail: irwan_zakaria@ymail.com.

“Satu-satunya yang menghambat pembelajaran saya adalah pendidikan saya”
-Albert Einstein-

Bukan maksud menilai bahwa pendidikan itu tidak penting, tapi dewasa ini sering kali Kita terjebak dalam pendidikan itu sendiri yang justru menghambat pembelajaran Kita. Dimana peraturan-peraturan yang tadinya dibuat untuk mengatur dan meningkatkan mutu pendidikan justru malah menyulitkan, membingungkan dan menghambat pembelajaran Kita. Lalu pendidikan seperti apakah yang sebaiknya diterapkan di negara kata ini?

Belajar dan pendidikan berkaitan erat, dimana dalam pendidikan tak pernah lepas dari kegiatan belajar. Salah satu fungsi pendidikan adalah memperhalus rasa, dalam pembukaan UUD 45 juga disebutkan bahwa pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ki Hadjar Dewantara dalam buku bagian pertama mengenai pendidikan menjelaskan bahwa, tentang pendidikan perasaan, maka di dalam ilmu pendidikan ada dua jenis pendidikan yang boleh dianggap sudah melengkapi maksud dan tujuan pendidikan, yaitu pendidikan etis (yakni pendidikan kehalusan hidup kebatinan, juga dinamakan pendidikan moril) dan yang ke-2 pendidikan estetis, yaitu pendidikan kesenian. KHD juga menjelaskan bahwa dengan pendidikan ‘etis’ maka anak-anak lalu dapat berkembang berjenis-jenis perasaannya, yaitu perasaan religius, sosial. Individual dan lain-lainnya, pendeknya terhadap segala benda kebatinan (nilai-nilai yang ada di dalam manusia sebagai makhluk yang luhur).

Sedangkan pendidikan ‘estetis’ yaitu menghaluskan perasaan terhadap segala benda lahir yang bersifat indah yang mengajarkan kesenian. Maksud dari pendidikan estetis bukan mendidik murid-murid untuk menjadi ahli-ahli seni, akan tetapi meksud yang kultural yaitu agar : dengan pendidikan menghaluskan perasaan, anak-anak hendaknya mendapat kecerdasan yang luas dan sempurna dari ruhnya, jiwanya, budinya, hingga mereka hendaknyalah mendapat tingkatan yang agak luhur sebagai manusia.

Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk bisa mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat UUD 45, jadi pemerintah harus bisa menyelenggarakan pendidikan dengan baik dan benar. Sistem yang dibuatpun harus sesuai kebutuhan rakyat. Saya pribadi belum bisa membuat konsep pendidikan yang baik dan sesuai dengan kondisi bangsa ini, tapi menurut saya yang diperlu ditekankan dalam penyelenggaraan pendidikan adalah nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab serta budi pekerti (akhlak). Sebab sebaik-baiknya kurikulum pendidikan yang kita pakai kalau tidak dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan kejujuran maka hasilnya akan sia-sia.

Dalam mendidik, nilai-nilai kejujuran tidak hanya ditekankan pada anak didik tapi juga kepada pengajar dan pihak-pihak penyelenggara pendidikan, karena perintah yang paling efektif adalah dengan memberi contoh. Hal ini sangat penting karena banyak sekali berita mengenai kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh pengajar dalam hal ini guru dan dosen agar peserta didik mendapatkan nilai baik dan lulus dengan hasil yang tidak mengecewakan. Banyak murid dan guru sama-sama melakukan kebohongan dan kecurangan yang hal ini seharusnya tidak terjadi didalam dunia pendidikan agar lulusan yang dihasilkan benar-benar berkualitas. Sedikit gambaran tentang negara yang mempunyai kualitas pendidikan terbaik di dunia dapat dilihat di http://t4belajar.wordpress.com/2009/04/24/negara-dengan-kualitas-pendidikan-terbaik-di-dunia/

Memang sangat berat tugas pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita. Paling tidak, hal yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah menaikkan anggaran pendidikan, anggaran pendidikan 20% dari APBN harusnya benar-benar direalisasikan untuk pendidikan diluar gaji guru dan dosen. Anggaran 20% dari APBN harus digunakan untuk pemenuhan buku-buku pelajaran dan melengkapi fasilitas penunjang pendidikan.

Yang menarik dari pendidikan di Finlandia adalah tidak ada paksaan dalam mendidik murid, murid-murid tidak dibebani dengan tugas-tugas dan PR karena Tugas dan PR justru dianggap membuat peserta didik menjadi stres. Pendidikan di Finlandia ini sesuai dengan konsep-konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya tentang pendidikan. Di Finlandia Ujian Akhir juga tidak digunakan sebagai penentu kelulusan siswa, yang ada murid di tekankan kejujuran dalam setiap kegiatan belajar mengajar.

Jadi menurut saya, untuk bisa meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, pemerintah harus menambah anggaran pendidikan. Hal ini agar pendidikan bisa murah, buku-buku juga harus disediakan pemerintah secara graris, kalaupun beli harus dengan harga yang sangat murah. Fasilitas penunjang pendidikan seperti gedung sekolah, laboratorium dan alat-alat praktek juga harus dibenahi. Gaji guru dan dosen juga harus dinaikan sebagai penghargaan atas kerja keras dan dedikasi dalam dunia pendidikan, hal ini dilakukan agar para guru dapat fokus mengajar tanpa harus memikirkan kerja sambilan untuk mendapat uang tambahan biaya hidup. Dengan gaji yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan kompetensinya dan juga taraf kehidupan guru tentunya..hehehe.. Dan yang terakhir pemerintah harus mengevaluasi kurikulum pendidikan dan undang-undang maupun peraturan-peraturan terkait pendidikan di Indonesia, kurikulum jangan di ganti-ganti seenak jidat. Masak tiap ganti menteri selalu ganti kurikulum, yang ada guru jadi bingung dan siswapun ikut-ikutan bingung..weh.weh.weh..