twitter
rss


"Kita tidak membutuhkan penjejalan, tapi kita membutuhkan pengembangan dan penyempurnaan pikiran dari setiap siswa dengan pengetahuan yang berasal dari fakta-fakta yang mendasar". ~Karl Marx~

Banyak Baca Banyak Rasa

Sayang… dengarkanlah, syair kau tulis kulagukan
Moga jadi siulan suatu masa
Dan moga engkau kan mengerti, dengan suara indah,
Hanya itu yang mampu kuberi

Di dalam mimpiku, syair indah yang masih kubaca hangus terbakar
Dengan tak kusangka yang kumimpi rupanya terjadi, punah semuannya…

Kesepian kini menyusuri hari, syair nan dirindu kubawa bersama
Tinggallah irama terus kulagukan, kekal ia
Bersama serpihan harapan kita yang punah

Kita tak menduga dari kenalan lahir sayang hingga ku terlupa kau siapa…
Selautan kasih kukalungkan dan selautan sayang
Ku persia di persada hampa

Ya Tuhan
Kembali ku ketuk pintu-Mu
Dan bersimpuh dihadapan-Mu

Ya Tuhan
Berikanlah petunjuk-Mu
Apakah ini jalan terbaik untukku
Semula hamba pun ragu, tapi keadaan memaksaku
Aku tak bisa berbuat lain
Aku sudah cukup berusaha
Namun kenapa nasib ini belum beruntung

Ya Tuhan
Bukannya hamba tak bersyukur kepada-Mu
Tapi, salahkah hamba ingin yang lebih dari itu
Maafkan hamba-Mu ya Robbi

Pudar sudah sinaran cinta
Yang dulu terasa kehangatannya
Mungkin ia dugaan semata
Atau berakhirnya cinta yang kita bina

Termenung dalam gelisah …
Kudekap potret cinta ini
Terimbas kini di memoriku
Saat kita bersama… cinta

Dalam rindu kugenggami
Cinta itu yang penuh duka
Tercoret kata memilukan aku
Membacanya dalam gemetar

Antara kita tiada bahagia
Percintaan menduga waktu
Meniti hari-hari, tiada persamaan
Mengapa kita teruskan, menipu diri

Waktu dirintang segala derita
Untukmu kekasih, kukorbankan
Jiwa dan raga aku serahkan, apalah daya
Berpisah kita akhirnya