twitter
rss


"Kita tidak membutuhkan penjejalan, tapi kita membutuhkan pengembangan dan penyempurnaan pikiran dari setiap siswa dengan pengetahuan yang berasal dari fakta-fakta yang mendasar". ~Karl Marx~

Banyak Baca Banyak Rasa

Di dalam membicarakan metode pendidikan sitem among atau dengan singkat di sebut metode among, akan saya kemukakan beberapa plobema, yakni:
1. Apakah pengertian metode among?
2. Apakah prinsip-prinsip metode among

Dari problema ini kita mencoba untuk memberi wawasan pemecahan masalahnya.

Pengertian metode among:
Metode among (dalam arti di latih dan metode mengajar) adah suatu metode pengajaran dan pendidikan, di mana pamong sebagai pendorong dari belakang terhadap para siswa supaya para siswa tadi mempunyai keaktifkan yang terarah untuk belajar sendiri dengan merdeka sehingga semua potensinya dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan pendidikan. Wujudnya metode among dalam tindakan adalah:
1. Mengamat-amati siswa tetapi bukan mecurigainya.
2. Memelihara dan menuntun siswa bila di perlukan saja.
3. Memberikan kemerdekaan untuk bertindak ke pada siswa.
4. Memelihara situasi yang menyenangkan.
5. Menyingkirkan kesukaran dan atau bahaya yang tidak dapat di atasi oleh siswa itu sendiri.
6. Tut wuri handayani, mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh sevara aktif dan efektif, bisa di perlukan.

A. Prinsip-Prinsip Metode Among

Sebagai prinsip-prinsip metode among antara lain ialah:
1. Menciptakan dan memelihara situasi yang menggembirakan bagi sang anak (siswa) baik dalam situasi pergaulan antara pamomg dan siswa maupun siswa dengan siswa dan pamong dengan pamong dan dala, situasi pergaualan lainya. Pamong – pamong yang tidak dapat menggembirakan yang di emong, bukan pamong yang sejati.
2. Memberi kemerdekaan siswa untuk belajar dan berbuat sendiri, jadi memakai prinsipkegiatan sendiri baik individual maupun kelompok
3. Dorongan – dorongan (motivasi) dari pamong harus sesuai dengan tingkatan – tingkatan pertumbuan dan perkembangan anak yakni berdaarkan prinsip perkembangan jiwa anak (siswa).
4. Mengembangkan kodrat (pembawaan) anak, terutama pembawaan yang baik – baik.
5. Membendung dan menghilangkan potensi – potensi yang tidak baik supaya tidak berkembang atau biar menjadi tipis.


B. Prosedur Pelaksanaan Metode Among

Di dalam melaksanakan metode among maka dapat di tempuh langkah langkah sebagai berikut:
1. Menciptakan situsi yang menggembirakan dalam keluarga perguruan maupun di dalam masyarakat. Hal ini penting, sebab situasi jiwa yang gembira akan dapat melancarkan tugas – tugas pekerjaan. Pada tugas mencipatakan situasi genbira ini dan untuk memeliharanya baik psychis maupun jasmaniah dapat menggunakan cara tersebut:
a. menghilangkan dan mencegah timbulnya tenaga batin pada para siswa, pamong perseorangan dan dalam bentuk hubungan pergaulan.
b. Jangan ada unsur – unsur memerintah dan memaksa antara pamong dan siswa, pamong dan pemimpin, pamong dan oamong maupun antara siswa. Tanamkan kesadaran akan kewajiban untuk menjalankan tugas tanpa perintah dan paksaan. Biasakanlah kepada hal – hal yang baik.
c. Situasi sekitar harus teratur, bersih dan jika dapat yang artistic ruangan kelas yang teratur.
d. Jangan menunda tugas dan kebutuhan – kebutuhan yang segera dapat dilaksanakan, sebab penundaan selalu akan menimbulkan kekecewaan, dan bahkan dapat menimbulkan hasil dan irama mengajar jangan terlalu melelahkan, buatlah yang lincah, cekatan, tidak monoton.
e. Pamong sedapat mungkin, menciptakan situasi pendidikan seperti dalam keluarga, artinya pamong dapat memperlakukan para siswa seperti memperlakukan anak –anaknya sendiri, jadi dengan dasr cinta kasih yang pedagogis.
2. Mengamati keadaan siswa secara teliti dengan menyelengarakan beberapa catatan, antara lain adalah :
a. kartu pribadi : untuk mencatat data mengenai data siswa satu persatu. Hal – hal yang perlu diteliti ialah :
1) Identitas siswa : nama, umur, jenis, sex, agama, kelas dan alamat.
2) Data orang tua : umur, agama, pendidikan dan pekerjaan, penghasilan, nama – nama saudara dan pekerjaan, penghasilan, nama –nama, saudara siswa dengan pendidikan dan atau pekerjaannya, alamat rumah, dsb.
3) Riwayat kesehatan siswa : cacat – cacat, apa yang dibei ta, penyakit apa yang sering dialami, penyakit turunan apa yang ada dll.
4) Riwayat pendidikan siswa : kapan masuk sekolah apakah pernah tidak naik kelas berapa, mata pelajaran apa yang paling disenangi, dan mata pelajaran yang tidak disenangi, mana yang mudah dan mana yang sukar, hobinya apa, dsb.
5) Sifat –sifat pribadi siswa : sifat – sifat baiknya dan juga kekurangan – kekurangan bakat apa.
6) Data latar belakang asal siswa : dari kota, desa, daerah lain, tradisinya, keadaan sekarang dsb.
Pendekatan kartu pribadi tadi hendaknya dibuat secara lengkap dan kontinyu supaya dapat diketahui pertumbuhan dan perkembangan siswa. Penyelenggaraan kartu pribadi baiklah dibedakan kepada pembimbing atau yang lain dan dibantu pamong.
b. Pembuatan priofil pribadi : ialah suatu gambaran atau grafik dinamika prestasi belajar para siswa satu persatu dan secara keseluruha. Hal ini penting untuk mengetahui keharmonisan hasil pendidikan. Profil pribadi ini dibuat dengan sitem kartu juga, sehingga dapat diebut kartu profil pribadi,.
Dengan melihat grafika (gambar profil pribadi ) seseorang siswa, maka dapat di periksa antara lain:
1) Mata – mata pelajaran apa yang maju dan baik nilainya.
2) Nilai – nilai mana yang kurang.
3) Nilai – nilai mana yang sama.

Karena pendidikan sitem among menganut cita- cita pembentukan pribadi intergral, maka gambaran propel pribadi harus seimbang, artinya beda antara prestasi yang tinggi dan yang rendah tidak terlalu menyolok. Secara ideal, prestasi – prestasi belajar pada tiap – tiap mata pelajaran hendaklah sama.
c. Sudi kasus ialah menyelidiki siswa perseorangan secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu, misalnya satu tahun. Hasilnya di catat dan di analisa serta study juga dapat di terangkan untuk kelompok siswa.

3. Didaktik dan Metodik dengan asas perkembangan anak, harus melaksanakan prinsip dan prosedur sebagai berikut:
a. Prinsip aktivitas siswa (aktivitas sendiri).
1) Dasar psykologisnya: pengajaran (belajar) datang dari response anak sendiri kepada stimulasi. Jangan memerintah atau memaksa anak untuk belajar, tetapi rangsanglah dengan memberi tuntunan sedikit mungkin untuk belajar sendiri, timbulnya ke butuhan untuk belajar.
2) Aturan prosedurnya untuk pamong: mengontrol atau nengawasi para siswa pada arah yang semestinyabenar, di samping itu mencegah kegiatan – kegiatan yang salah.

b. Prinsip Motivasi atau menuntun interest: untk memberi dorongan, inilah prinsip tut wurinya.
1) Dasar psycologisnya: atensitas respon belajar tergantung pada interest, tergantung kepada kuat lemahnya motif belajar yang ada pada sisw.
2) Aturan prosedurnya untuk pamong: Timbulnya interes pada waktu memberi stimulasi belajar. Misalnya dengan memberi alat – alat peraga yang menarik perhatian, bahan yang di pelajari memang penting untuk hidup, dan sebainya lagi.

c. Prinsip Appersepsi ialah persiapan untuk kesediaan nental atau kemauan jiwa siswa.
1) Dasar psychologisnya: essensi respone belajar tergantung ke pada pengalaman yang lampau dan rangka pikiran pada saat ini. Artinya pengajaran harus bertitik tolak ke pada pengetahuan – pengetahuan yang telah di miliki oleh anak sebagai bekal untuk menagkap pelajaran yang baru.
2) Aturan prosedurnya untuk pamong: penyajian bahan – bahan atas stimuli hendaklak di selaraskan dengan pengalaman dan kesiapan mental para siswa.

d. Prinsip individualisasinya: Yakni mengindahkan prbedaan – perbedaan individual (individual differences), artinya mengikat atau di sesuaikan dengan pembawaa siswa masing masing.

1) Dasar psychologisnya: Response belajar di temukan dan di batasi oleh kemampuan individu-individu perseoragan yang sayu sama lain berbeda beda . Misalnya siswa yang berbakat ilmu pasti akan lebih cepat dapat memahami pelajaran aljabar di bandingkan dengan yang tidak brbakat ilnu pasti.
2) Aturan prosedur utntu pamong: sesuaikanlah pengajaran dengan individual differences tadi. Data individual mengenai pembawaan para siswa dapat di cari dalam kartu pri badi pada bagian bimbingan dan penyuluhan
e. Prinsip sosialisasinya: Artinya menuntun perkembangan anak kepada pemamfaatan bersama, untu masyarakat inilah pendidikan social skill (kecakapan social).
1) Dasar Psychologisnya: Tiap yip response tentulah mempunyai implikasi-implikasi socialnya tidak ada orang hidup soliter, tetapi mesti masyarakat.
2) Aturan prosedurnya untuk pamong: semua response belajar harus di kembangkan didalam si tuasi sosial yang wajar. Misalnya para siswa hendaklah selalu di latih dalam kerja sama, berkomunikasi satu sama lain, berkonikasi satu sama lain, saling Bantu membantu saling mempercayai, saling menghormati.
f. Prinsip efesinsi Aktifitas kerja: Artinya kerja: Artinya dengan sedikit usaha dapatlah memperoleh hasil yang banyak dengan memuaskan hati.
1) Dasar psychologisnya: setiap usaha mesti menghendaki yang cepat, memuaska dan berguna.
2) Aturan prosedurnya: Setiap usaha dan kegiatan belajar hendaklah dilaksanakan dengan cepat, hemat, teliti, dan bertindak (bekerja) dengan kecekatan, lincah dan rapuh.

Demikian senam prinsip dan prosedur didaktik metodik modern yang berdasarkan pada perkembangan jiwa anak-dasar psycchollogis. Yang ada pokonya mengajar dan belajar harus di sesuaikan dengan tahap- tahap pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak- anak serta di sesuaian lagi engan bakat-bakat perseorangan-dasar individual.

Oleh : Ibenzani Hastomi

“Dengan menulis aku ada// Dengan menulis aku hidup// Dengan menulis aku membaca// Dengan menulis aku dibaca...”
(K.H Zainal Arifin Thoha, Alm.)

Sebagai bagian dari sense of intelectual, membaca-menulis bagi kalangan kampus, baik mahasiswa maupun dosen adalah suatu keniscayaan. Membaca dan menulis adalah entitas yang saling berkaitan erat, dengan membaca kita bisa memperoleh pengetahuan, dengan menuliskan pengetahuan yang kita dapat, maka kita telah berbagi pemikiran dengan kalangan luas. Dalam kehidupan sosial yang berbasis komunikasi, kemampuan berbahasa yang baik, baik retorika maupun tulisan, dalam mengejawantahkan diskursus dan pemikiran adalah prasyarat utama sebuah interaksi sosial.

Disinilah mengapa tradisi menulis menjadi lebih urgen walaupun kita tidak bisa begitu saja menafikan tradisi retorika. Dokumentasi tulisan bersifat abadi dan dapat dibaca berulang-ulang sehingga daya jangkau penyampaiannya bisa mengenai lebih banyak kalangan. Keistimewaan agitasi tulisan dalam memengaruhi massa pun menjadi lebih besar. Perjuangan para Founding Fathers merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial, tak hanya bermodalkan perlawanan fisik, tetapi juga perlawanan yang bersifat intelektual. Bagaimana perintis pers pribumi, Tirto Adi Soerjo berjuang dengan Medan Prijaji-nya, Ki Hadjar Dewantara (KHD) dengan “Andai Aku Seorang Belanda”-nya, ataupun tokoh cerdik cendekia lainnya yang berjuang di jalur yang sama. Pasca kemerdekaan pun, stakeholders era Orde Baru yang takut akan kekuatan tulisan berusaha mengerdilkan peran pers dengan menerbitkan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) yang rentan ancaman pembredelan dan sanksi berat bagi media mainstream dan wartawan yang ‘membangkang’, walaupun pada akhirnya Reformasi 1998, peran pers (dalam hal ini pers mahasiswa) juga turut andil. Karena tulisan ‘curhat’-nya yang dinilai membahayakan pula, Prita Mulyasari sempat menjadi ‘bulan-bulanan’ RS Omni internasional, ataupun di luar negeri, Veronica Guerin (yang kisahnya diflmkan) mengorbankan nyawa ketika tulisannya membongkar sindikat mafia narkoba yang juga melibatkan oknum aparatus negaranya.

Mahasiswa Menulis? Why Not?
Kesadaran menulis di kalangan kampus juga sebagai bagian dari tridharma perguruan tinggi. Sebagai lembaga pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi dituntut bisa mengkaji, berinovasi kemudian mempublikasikan upaya pemecahan permasalahan sosial. Perguruan tinggi adalah lembaga akademik yang keberadaannya tak boleh jauh dari kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya.

Menulis bagi mahasiswa adalah sebuah keniscayaaan, namun apakah spirit itu masih melekat pada mahasiswa sampai hari ini? Tentu saja jawabannya relatif subjektif, ada yang sebagian masih mempertahankan tradisi menulis, namun tak banyak pula mahasiswa yang untuk menulis saja sudah terbanyang keengganan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang susah, terlebih dengan rutinitas kuliah beserta dinamika tugasnya yang kadang menyita waktu luang. Padahal jika dicermati lebih dalam, dunia tulis menulis sangat berkelindan (berjalan beriringan) dengan tradisi intelektual, dalam hal ini mahasiswa. Mahasiswa sebagai miniatur dunia intelektual, adalah agen perubahan sosial (the agent of social change), dengan apa mahasiswa melakukan perubahan? Tentulah dengan menulis salah satunya.

Menurut hemat saya, mengubah paradigma bahwa menulis itu proses yang menyenangkan adalah urgen untuk menggalakkan kembali tradisi menulis mahasiswa. Menulis adalah proses pergulatan intelektual tiap orang, dan menulis pula adalah hasil akumulasi dari pengamatan yang dilakukan terhadap realitas di sekelilingnya lalu diejawantahkan dan dikomunikasikan lewat bahasa. Tentu saja hal ini harus ditambah pula penciptakan iklim akademik yang kondusif bagi mahasiswa untuk menulis, pemberian dukungan moral sepenuhnya, memperbanyak iklim diskusi dan keteladanan dari para pamong ataupun dosen. Bukankah KHD dalam ajarannya mensyaratkan keteladanan pamong kepada para muridnya (ing ngarso sung tuladha)?

Dengan segala kekuatan dari sebuah tulisan, marilah kita sebagai mahasiswa membiasakan diri membaca dan menulis untuk mempertegas identitas kemahasiswaan kita. Membaca membuat kita paham raelitas di sekitar dan menjadikan pemikiran kita kritis dan terbuka. Menulis adalah pelengkap perjuangan menuntut perubahan yang selama ini di dengung-dengungkan bersama. Akhirnya, kembali ke muara perjuangan, siapa yang akan menikmati kehidupan ke depan yang lebih baik lagi jika bukan kita semua? Semoga.

*Disampaikan dalam diskusi rutin LKAT Demokrasi

Latar Belakang Sistem Among
Kata Among untuk menunjuk arti pendidikan, Ki hajar Dewantara memakai dalam karangan beliau yang berjudul pengajaran nasional, sebuah pidato pada rapat umum Tamansiswa di malang tanggal 2 pebruari 1930, antara lain beliau berkata:
”Pendidikan Tamansiswa tidak memakai syarat paksaan. Lebih tegas lagi apabila kita mengetahui, bahwa sesungguhnya perkataan opvoeding, panggulawen itu perkataan kita: Momong, Amonng dan Ngemong”.

Pembaca perlu mengetahui, bahwa ketiga istilah tersebut di atas memang among ngemong dari bahasa jawa. Ketiganya berarti memelihara anak selalu senang hatinya dan aman (selamat), terhindar dari semua bahaya. Selain momong berarti membantu, memelihara anaknya. Inilah tugas momong yang sebenarnya, orang yang di serahi tugas momong di sebut pamong, artinya tukang momong. Anak yang di emong disebut mongan. Dahulu ketika masih jaman kerajaan, ada pamong dalam istana, yakni momong putra dan putrid raja. Pamong putri dalam istana di sebut emban. Emban yang khusus menyusui putra raja di sebut inya sedangkan pamong putra di sebut punakawan panakawan, dan tugasnya momong putra laki – laki raja, bahkan sampai dewasa.
Yang telah dewasa tetap emban. Orang biasa juga mempunyai pamong, yang bertugas momong anak – anak, supaya ibu dan ayah dapat bekerja biasa.
Ada lagi pemakaian kata momong yang berarti istimewa. Misalnya, seorang jejaka minta ke pada orang tua putri remaja, bahkan ia akan momong putra putrinya. Hal ini bearti melamar, jadi putrinya momonganya akan di jadikan istrinya. Contoh, arti esensi dari kata momng masih tetap juga, yakni suami berusaha untuk mengembirakan memelihara supaya sang istri merasa senang, aman dan bahagia. Dan sebaliknya sang istri juga momong istrinya, artinya membantu semua hal yang dibutuhkan suami. Maka suami dan istri terjadi emong – ingemong, saling momong satu sama lainnya.

Mengapa Ki Hajar Dewantara mengunakan istilah among dengan maksud menunjukan adanya perasaan dengan ovpvoeding, sebab beliau ingin menunjukan juga, bahwa mendidik anak itu harus dengan darah kemerdekaan, mengingat bahwa anak itu mempunyai pembawaan kodrati yang memerlukan pertumbuhan dan perkembangan secara leluasa, secara merdeka. Pendekatan Ki Hajar Dewantara, untuk mendidik jiwa merdeka pada anak –anak Indonesia. Lebih kentara lagi latar belakang timbulnya cita – cita dan pelaksanaan pendidikan merdeka atau pendidikan system among adalah :
1. Nasib bangsa Indonesia yang terjadi dalam segala hal oleh pemerintah colonial belanda.
2. System pendidikan kolonial tidak memenuhi keburuhan rakyat Indonesia, jumlahnya amat sedikit.
3. Yang dapat masuk sekolah hanya anak –anak pegawai dan golongan ningrat.
4. System pendidikan colonial tidak cocok dengan kodrat dan kebutuhan anak Indonesia. Yaitu :
a. Dasarnya perintah, hukuman dan ketertiban, hal ini dianggap oleh Ki Hajar Dewantara, sebab memperkosa kodrat anak.
b. Isi pendidikanya mengabdi kepentingan colonial belanda.
c. Merusak kepribadian anak, misalnya menimbulkan akses intelektualisme, individualisme, egoisme, materialisme, dsb.
d. Kurang atua tidak mementingkan pendidikan watak yang baik dan keluhuran rasa dan budi, sehingga tidak dapat mencapaipribadi yang harmonis.
e. Kegagalan – kegagalan dibidang politik memberi inspirasi jalan keluarnya ialah menanamkan jiwa merdeka melalui pendidikan yang merdeka dengan dasar tertib dan damai, tata dan tentram, larasan dan wirama, merdeka berdiri sendiri, mandiri dan pribadi.
f. Sebagai protes secara positif dari Ki Hajar Dewantara untuk mengimbangi system pendidikan colonial dengan mendirikan perguruan nasional.
g. Pengaruh ide – ide dari tokoh – tokoh pendidikan.

Di dalam peraturan dasar persatuan Tamansiswa juga ada perumusan mengenai system yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan dua dasa.
a. kodrat alam sebagai sarat untuk mencapai kemajuan dengan secepat – cepatnya dan sebaik – baiknya.
b. Kemerdekaan sebagai sarat untuk meenghidupkan dan memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka.

Mengenai cara melaksanakan system among tadi disebut juga system “ tut wuri handayani” ( mengikuti mendayai) dalam system tersebut maka setiap pamong sebagai pemimpin dalam proses pendidikan itu melaksanakan.
a. Tut wuri handayani
b. Ing madya mangun karsa
c. Ing ngarso sung tulodo

Ki Hajar Dewantara sendiri memberikan penjelasan mengenai pendidikan system among mewajibkan pamong untuk selalu mengingati dan menentukan dan mementingkan kodrat iradatnya anak – anak dengan memperhatikan juga keadaan sekelilingnya.
Sekarang sampailah saya pada untuk memberikan wawasan mengenai metode among dalam pelaksanaan kongkritnya, dalam arti metode pengajaran pada mata – mata pelajaran pada perguruan tamansiswa dan peminat – peminat lainya. Titik tolak tetap pada definisi penddidikan system among tersebut di muka, yang secara implisit menentuka kepada anak sebagai obyek dan subyek pendidikan. Oleh karena anak sebagai masalah sentralnya, maka perlu ditinjau lebih dahulu aspek-aspek pendidikan mana yang harus dituntun pertumbuhan dan perkembangan secara kodrati dan merdeka supaya anak dapat mencapai kedewasaan pribadi yang integral, harmoni yang dapat hidup bahagia di dalam masyarakat.